Insiden Berdarah di Bandara Koroway Batu, 2 Pilot Gugur
PAPUA SELATAN – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan memberikan penjelasan resmi terkait insiden penembakan terhadap pesawat milik maskapai Smart Air di Bandara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel. Peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah pesawat mendarat dan mengakibatkan dua orang pilot meninggal dunia.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa pihaknya menerima laporan awal mengenai kronologi kejadian tersebut. Berdasarkan informasi yang dihimpun, pesawat Smart Air lepas landas dari Bandar Udara Tanah Merah pada pukul 10.38 WITA. Pesawat kemudian tiba dan mendarat di Bandara Koroway Batu pada pukul 11.05 WITA.
Namun, situasi berubah mencekam sesaat setelah pesawat menyentuh landasan. Insiden penembakan dilaporkan terjadi tidak lama setelah pendaratan berlangsung. Otoritas perhubungan udara pun segera menerima informasi lanjutan mengenai dampak dari kejadian tersebut.
“Pada pukul 13. 26 WITA, kami mendapat informasi bahwa ke-dua pilot menjadi korban penembakan dan telah meninggal dunia sedangkan 12 penumpang dan 1 bayi selamat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (11/02/2026).
Keterangan tersebut menegaskan bahwa seluruh penumpang berhasil selamat dari peristiwa tersebut, meskipun dua awak kokpit tidak tertolong. Hingga kini, aparat keamanan dan pihak terkait masih melakukan penanganan di lokasi kejadian untuk memastikan situasi tetap terkendali serta mengusut pelaku penembakan yang diduga dilakukan oleh orang tak dikenal.
Ditjen Hubud menyatakan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan keselamatan penerbangan di wilayah tersebut tetap terjaga. Insiden ini menjadi perhatian serius mengingat penerbangan perintis memiliki peran vital dalam menghubungkan wilayah-wilayah terpencil di Papua Selatan.
Lukman menegaskan bahwa informasi lebih lanjut akan disampaikan setelah proses pendalaman di lapangan dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah, melalui Kementerian Perhubungan, berkomitmen untuk memberikan pembaruan informasi secara berkala kepada publik.
“Hingga saat ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus melakukan koordinasi dengan Otoritas Bandar Udara Wilayah X Merauke dan Kepala Satuan Pelayanan/pegawai yang ada di Bandar Udara Koroway Batu,” ujarnya.
Koordinasi tersebut mencakup pengamanan area bandara, pendataan saksi, serta evaluasi prosedur keselamatan operasional di wilayah rawan. Pemerintah juga memastikan dukungan terhadap maskapai dan keluarga korban.
Peristiwa ini kembali menyoroti tantangan keamanan penerbangan di sejumlah wilayah terpencil Indonesia. Selain faktor geografis yang sulit dijangkau, aspek keamanan menjadi komponen krusial dalam menjamin kelancaran distribusi logistik, mobilitas masyarakat, serta pelayanan publik.
Kementerian Perhubungan menegaskan akan terus bersinergi dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah guna meningkatkan pengawasan serta mitigasi risiko di bandara-bandara perintis. Langkah tersebut diharapkan mampu mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang dan memastikan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama. []
Siti Sholehah.
