PT Garam Bangun Pabrik Garam dari Limbah Kilang Balikpapan
JAKARTA – Upaya memperkuat kemandirian garam industri nasional terus dilakukan melalui pemanfaatan teknologi dan hilirisasi. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui rencana pembangunan pabrik pengolahan limbah cair kilang menjadi garam industri oleh PT Garam, anak usaha dari ID Food. Proyek ini akan memanfaatkan limbah air dari kilang milik Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Pabrik tersebut dirancang untuk mengolah air limbah yang sebelumnya hanya dinetralkan sebelum dibuang ke laut. Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan, menegaskan bahwa limbah tersebut memiliki potensi ekonomi yang signifikan jika dimanfaatkan dengan teknologi yang tepat.
“Jadi, ada peluang potensi yang cukup besar dari Pertamina di Balikpapan, itu ada RDMP-nya Pertamina yang mengambil air laut untuk kebutuhan boiler mereka,” ujarnya dalam acara Hilirisasi Garam untuk Indonesia Mandiri di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Kamis (12/02/2026).
Selama ini, air laut yang digunakan dalam proses boiler kilang akan menghasilkan air garam pekat atau air tua yang tidak dimanfaatkan lebih lanjut. Melalui proyek ini, limbah tersebut akan diolah kembali menjadi garam industri bernilai tinggi, sehingga memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
PT Garam telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pertamina sebagai landasan kerja sama proyek ini. Saat ini, kedua perusahaan tengah melakukan studi kelayakan guna memastikan kesiapan teknis, operasional, serta aspek ekonominya. Selain itu, proyek ini juga telah dipresentasikan kepada Danantara sebagai bagian dari upaya membentuk entitas usaha baru melalui kolaborasi lintas perusahaan.
“Danantara pun sudah menargetkan agar yang dengan Pertamina ini bisa dilakukan groundbreaking di fase 2 di bulan April. Dari pihak Pertamina sudah menyambut baik potensi pengembangan bisnis ini, karena ini menjadi sebuah entitas baru,” jelas ia.
Proyek pembangunan pabrik garam industri tersebut diperkirakan membutuhkan investasi hingga Rp 7 triliun dan ditargetkan mulai memasuki tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking pada April 2026. Fasilitas ini akan menggunakan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR), yang memungkinkan pengolahan limbah cair berkadar garam tinggi menjadi produk garam industri secara efisien.
Kapasitas produksi yang direncanakan mencapai 1 juta ton garam per tahun. Dengan kapasitas sebesar itu, pabrik ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan garam industri nasional yang selama ini masih bergantung pada impor.
“Kapasitas yang akan terpasang di situ adalah 1 juta ton, karena memang potensi airnya sangat besar sekali. Dengan kapasitas 1 juta ton harapannya ini kembali bisa menjawab tantangan dan kebutuhan industri,” terangnya.
Pembangunan fasilitas di Balikpapan merupakan bagian dari strategi besar PT Garam dalam memperkuat industri garam nasional melalui hilirisasi. Secara keseluruhan, perusahaan telah menyiapkan tujuh proyek strategis dengan total nilai investasi mencapai Rp 10 triliun.
Selain proyek di Balikpapan, PT Garam juga merencanakan pembangunan fasilitas pengolahan garam di Bipolo, Nusa Tenggara Timur, dengan kapasitas produksi 109.842 ton per tahun di lahan seluas 300 hektare. Proyek lain mencakup pembangunan pabrik berkapasitas 100.000 ton di Gresik menggunakan teknologi MVR, serta pabrik pengolahan kalsium dan magnesium dari limbah garam di Sampang yang akan melibatkan investor dari Swedia.
Perusahaan juga menyiapkan proyek tambahan di Gresik dengan kapasitas 400.000 ton, di Rote Ndao sebesar 200.000 ton, serta di Sumenep dengan kapasitas antara 80.000 hingga 160.000 ton. Proyek di Sumenep ini akan menggandeng pengusaha lokal Madura dengan nilai investasi sekitar Rp 300 miliar.
“Total semuanya (7 proyek) kita rencanakan di angka Rp 10 triliunan. Paling besar memang yang di Balikpapan dengan Pertamina itu,” jelas Indra.
Melalui berbagai proyek ini, PT Garam berharap dapat meningkatkan produksi garam industri dalam negeri secara signifikan. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, sekaligus meningkatkan daya saing industri berbasis sumber daya lokal. Pemanfaatan limbah kilang sebagai bahan baku juga menjadi inovasi penting dalam menciptakan industri yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.[]
Siti Sholehah.
