Reza Pahlavi Serukan Intervensi Internasional untuk Iran
JAKARTA – Situasi politik Iran kembali menjadi perhatian dunia internasional setelah Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang hidup dalam pengasingan, menyerukan intervensi internasional untuk mendukung rakyat Iran. Tokoh oposisi yang kini bermukim di Amerika Serikat tersebut menilai tekanan eksternal diperlukan guna mengimbangi kekuatan otoritas Republik Islam yang saat ini berkuasa.
Dalam pernyataannya di forum internasional, Pahlavi menekankan bahwa rakyat Iran membutuhkan dukungan konkret dari komunitas global. Ia menyampaikan pandangannya saat berbicara dalam Konferensi Keamanan Munich, sebuah forum bergengsi yang mempertemukan para pemimpin dan pengambil kebijakan dunia.
“Saya pikir banyak warga Iran di dalam dan luar negeri berharap bahwa intervensi yang akan menetralkan instrumen penindasan rezim akhirnya akan memberi kami kesempatan untuk solusi akhir,” kata ‘Putra Mahkota’ Iran itu saat berbicara di Konferensi Keamanan Munich.
Menurut Pahlavi, intervensi yang dimaksud bukan semata-mata tindakan militer, melainkan langkah yang mampu menghentikan kekerasan terhadap warga sipil serta membuka jalan menuju perubahan politik di Iran. Ia menekankan pentingnya pendekatan kemanusiaan untuk melindungi masyarakat dari tindakan represif aparat.
“Kami meminta intervensi kemanusiaan untuk mencegah lebih banyak nyawa tak berdosa terbunuh dalam proses ini,” imbuhmya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah gelombang protes antipemerintah yang meningkat sejak awal tahun. Aksi demonstrasi yang memuncak pada Januari lalu mendapat respons keras dari aparat keamanan Iran. Sejumlah kelompok hak asasi manusia melaporkan ribuan korban jiwa akibat tindakan represif tersebut.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah mengancam kemungkinan intervensi militer untuk mendukung demonstran di Iran. Washington juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah dengan menempatkan satu kapal induk, dan berencana mengirimkan kapal induk tambahan dalam waktu dekat.
Menanggapi sikap Washington, Pahlavi menyatakan bahwa dukungan internasional tetap harus ditempuh melalui jalur diplomatik secara maksimal. Ia menilai legitimasi langkah internasional akan semakin kuat apabila seluruh opsi damai telah diupayakan.
Pahlavi mengatakan Trump “perlu meyakinkan seluruh dunia bahwa ia telah memberikan upaya diplomatik kesempatan maksimal”.
Namun demikian, ia juga menyebut adanya ekspektasi besar dari masyarakat Iran terhadap komitmen Amerika Serikat. Menurutnya, harapan tersebut harus dijaga agar tidak menimbulkan kekecewaan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.
Namun, Pahlavi juga mengatakan bahwa “Presiden Trump menyadari bahwa rakyat Iran telah sangat jelas dalam permintaan mereka untuk dukungan, mereka benar-benar percaya pada janjinya bahwa bantuan sudah dekat”.
“Ada banyak yang dipertaruhkan dalam hal menjaga muka di hadapan harapan itu,” ujarnya selama percakapan dengan jurnalis CNN, Christiane Amanpour di Konferensi Keamanan Munich, sebuah kesempatan langka baginya untuk berbicara di acara internasional.
Sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki Iran, Pahlavi belum pernah kembali ke tanah airnya. Meski demikian, ia tetap aktif menyuarakan perubahan politik dan menyerukan solidaritas global terhadap rakyat Iran.
Seruan Pahlavi tersebut kembali menempatkan isu Iran dalam pusaran perhatian internasional, terutama terkait kemungkinan keterlibatan pihak asing dalam dinamika politik domestik negara tersebut. Hingga kini, komunitas global masih mencermati perkembangan situasi, termasuk potensi dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.[]
Siti Sholehah.
