Hubungan Jepang-China Memanas di Forum Munich

JAKARTA – Hubungan diplomatik antara Jepang dan China kembali memanas setelah pemerintah Jepang melayangkan protes resmi terhadap pernyataan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi. Tokyo menilai komentar tersebut tidak berdasar dan berpotensi memperburuk ketegangan bilateral.

Pernyataan Wang disampaikan dalam forum Konferensi Keamanan Munich di Jerman pada Minggu (15/02/2026). Dalam pidatonya, Wang menyinggung dinamika politik domestik Jepang dan menuduh adanya “kekuatan sayap kanan ekstrem” yang berupaya menghidupkan kembali militerisme.

Wang dalam Konferensi Keamanan Munich mengatakan bahwa: “Rakyat Jepang tidak boleh lagi membiarkan diri mereka dimanipulasi atau ditipu oleh kekuatan sayap kanan ekstrem tersebut, atau oleh pihak yang berupaya menghidupkan kembali militerisme.”

“Semua negara pencinta damai harus mengirimkan peringatan yang jelas kepada Jepang: Jika Jepang memilih untuk kembali ke jalan ini, mereka hanya akan bergerak menuju kehancuran diri sendiri,” sebut Wang dalam pernyataannya.

Komentar tersebut memicu reaksi cepat dari Kementerian Luar Negeri Jepang. Melalui pernyataan resmi yang disampaikan di media sosial X, Tokyo membantah keras tudingan tersebut dan menyebutnya sebagai klaim yang tidak sesuai fakta.

“Upaya Jepang untuk memperkuat kemampuan pertahanannya merupakan respons terhadap lingkungan keamanan yang semakin ketat dan tidak ditujukan terhadap negara ketiga tertentu,” tegas Kementerian Luar Negeri Jepang dalam pernyataan via media sosial X pada Minggu (15/02/2026) waktu setempat.

Pemerintah Jepang juga menyinggung adanya negara-negara yang dinilai meningkatkan kemampuan militer secara tidak transparan. Namun demikian, Tokyo menegaskan sikapnya yang konsisten terhadap prinsip perdamaian.

“Jepang menentang langkah-langkah tersebut dan menjauhkan diri dari mereka.”

Selain pernyataan tertulis, Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, turut memperjelas posisi negaranya dalam sesi terpisah di forum yang sama di Munich. Jepang juga disebut telah menyampaikan protes keras kepada Beijing melalui jalur diplomatik sebagai bentuk keberatan resmi atas pernyataan Wang.

Ketegangan ini tidak muncul dalam ruang hampa. Hubungan kedua negara sebelumnya telah berada dalam tekanan sejak Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan komentar terkait Taiwan pada November lalu. Saat itu, Takaichi menyatakan Jepang akan melakukan intervensi militer apabila terjadi serangan terhadap Taiwan.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Beijing yang menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk menguasainya. Isu Taiwan hingga kini menjadi salah satu titik sensitif dalam hubungan China dengan sejumlah negara di kawasan.

Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa rivalitas strategis di Asia Timur masih sarat dengan ketegangan retoris dan manuver diplomatik. Meski kedua negara memiliki hubungan ekonomi yang erat, perbedaan pandangan terkait keamanan regional terus menjadi sumber friksi.

Para pengamat menilai komunikasi diplomatik yang intensif diperlukan untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Hingga kini, belum ada indikasi pertemuan bilateral khusus untuk meredakan ketegangan pasca pernyataan tersebut. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *