Menjelang Pemilu, Prancis Diguncang Kekerasan Politik
JAKARTA – Aparat penegak hukum di Prancis membuka penyelidikan kasus pembunuhan menyusul tewasnya seorang aktivis sayap kanan dalam bentrokan di Kota Lyon pekan lalu. Peristiwa ini memicu ketegangan politik yang kian tajam menjelang agenda pemilu lokal dan nasional.
Korban bernama Quentin Deranque (23) meninggal dunia setelah mengalami cedera otak serius akibat pengeroyokan yang terjadi pada Kamis (12/02/2025). Insiden itu berlangsung di sela-sela aksi protes kelompok sayap kanan terhadap kehadiran seorang politisi sayap kiri yang memberikan pidato di sebuah universitas di Lyon.
Jaksa Lyon, Thierry Dran, menyatakan bahwa korban diserang oleh sedikitnya enam orang. Hingga kini belum ada penangkapan yang dilakukan. Aparat masih berupaya mengidentifikasi para pelaku yang mengenakan penutup wajah.
Kasus tersebut tengah diselidiki sebagai “pembunuhan yang disengaja” serta “penyerangan yang diperparah”. Penyelidik juga memeriksa rekaman video serta keterangan para saksi yang berada di lokasi kejadian.
Insiden berdarah ini terjadi di tengah meningkatnya rivalitas antara kelompok sayap kanan dan sayap kiri ekstrem Prancis, terutama menjelang pemilihan kota pada Maret dan pemilihan presiden 2027. Partai sayap kanan ekstrem National Rally (RN) disebut-sebut memiliki peluang besar dalam kontestasi mendatang.
Pemerintah menilai retorika politik tertentu turut memperkeruh situasi. Partai sayap kiri France Unbowed (LFI) dituding menciptakan atmosfer yang memicu eskalasi kekerasan. Juru bicara pemerintah, Maud Bregeon, bahkan menyebut ada tanggung jawab moral dari LFI atas peristiwa tersebut.
“Oleh karena itu–mengingat iklim politik dan iklim kekerasan–ada tanggung jawab moral dari pihak LFI” atas serangan pada hari Kamis, katanya kepada stasiun televisi BFMTV.
Di sisi lain, kelompok anti-imigrasi Nemesis menyatakan bahwa korban hadir dalam aksi tersebut untuk melindungi anggotanya. Nemesis menuding kelompok pemuda anti-fasis Jeune Garde sebagai pihak yang bertanggung jawab. Jeune Garde diketahui didirikan bersama oleh seorang anggota parlemen LFI sebelum menjabat, meskipun kelompok itu telah dibubarkan sejak Juni lalu. Pihak Jeune Garde membantah keterlibatan dalam insiden tersebut.
Menurut sumber yang dekat dengan penyelidikan, bentrokan di lokasi berlangsung sengit antara massa dari dua kubu yang berseberangan. Rekaman yang ditayangkan stasiun televisi TF1 memperlihatkan sekelompok orang memukuli tiga individu yang terjatuh, sementara dua di antaranya berhasil melarikan diri. Seorang saksi mengatakan kepada AFP bahwa para pelaku menggunakan batang besi dalam aksi kekerasan itu.
Pemimpin veteran LFI, Jean-Luc Melenchon, membantah partainya bertanggung jawab atas kematian Deranque. Sementara itu, anggota parlemen LFI, Raphael Arnault, yang ikut mendirikan Jeune Garde, menyatakan keterkejutannya atas tragedi tersebut.
Ketua parlemen Yael Braun-Pivet mengungkapkan bahwa salah satu asisten Arnault telah dilarang memasuki parlemen setelah namanya disebut dalam penyelidikan.
Dari kubu kanan, tokoh RN Marine Le Pen mengecam keras pelaku kekerasan dan menyebut mereka sebagai “orang-orang barbar yang bertanggung jawab atas pembunuhan massal ini”.
Penyelidikan masih terus berjalan, sementara aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah bentrokan susulan. Peristiwa ini diperkirakan akan semakin memanaskan suhu politik Prancis dalam beberapa bulan ke depan. []
Siti Sholehah.
