Selat Hormuz Kembali Jadi Arena Latihan Militer Gabungan

JAKARTA – Kerja sama militer di kawasan perairan strategis kembali mengemuka setelah Iran, Rusia, dan China mengerahkan kapal-kapal perang mereka untuk mengikuti latihan angkatan laut gabungan di Selat Hormuz. Kawasan yang menjadi salah satu jalur distribusi energi dan perdagangan global paling vital itu dinilai semakin rentan terhadap berbagai potensi gangguan keamanan.

Latihan yang digelar pertengahan Februari tersebut diberi nama Maritime Security Belt 2026 dan diselenggarakan oleh Iran. Kegiatan ini diposisikan sebagai bentuk koordinasi antarangkatan laut dalam menjaga stabilitas dan keamanan jalur pelayaran internasional yang melintasi Selat Hormuz, penghubung antara Teluk Persia dan Teluk Oman.

Informasi mengenai latihan tersebut disampaikan oleh penasihat kepresidenan Rusia, Nikolay Patrushev, dalam wawancara dengan majalah mingguan Argumenty i Fakty pada Selasa (17/02/2026) waktu setempat, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency, Rabu (18/02/2026).

Dalam pernyataannya, Patrushev menyinggung visi Rusia terkait dinamika geopolitik maritim global. Ia menyatakan bahwa negaranya tengah berupaya membangun keseimbangan baru dalam tatanan kekuatan laut dunia.

“Kita akan memanfaatkan potensi BRICS, yang sekarang harus mendapatkan dimensi maritim strategis yang sepenuhnya,” kata Patrushev.

Ia juga menegaskan bahwa Rusia mendorong terbentuknya “tatanan dunia multipolar di lautan” sebagai respons terhadap dominasi yang disebutnya sebagai hegemoni Barat. Ketiga negara yang terlibat dalam latihan di Selat Hormuz tersebut merupakan anggota BRICS, kelompok kerja sama antarpemerintah yang kian memperluas pengaruhnya di berbagai sektor, termasuk keamanan dan pertahanan.

Sebelumnya, BRICS telah menggelar latihan angkatan laut perdana bertajuk “Will for Peace 2026″ pada Januari lalu di kawasan Atlantik Selatan. Latihan tersebut melibatkan Rusia, China, Iran, Uni Emirat Arab, dan Afrika Selatan. Kegiatan itu menjadi tonggak awal penguatan kerja sama maritim di antara negara-negara anggota dan mitra BRICS.

Terkait latihan terbaru, Patrushev menilai langkah tersebut memiliki urgensi tersendiri.

“Latihan Maritime Security Belt 2026 di Selat Hormuz, di mana Rusia, China, dan Iran mengirimkan kapal-kapal mereka, terbukti relevan,” sebut Patrushev.

Selat Hormuz sendiri merupakan titik sempit yang sangat strategis dalam peta perdagangan global. Sebagian besar pengiriman minyak dunia melewati perairan tersebut, sehingga setiap potensi gangguan keamanan di kawasan ini dapat berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi internasional.

Latihan gabungan Maritime Security Belt bukanlah kegiatan yang baru pertama kali dilakukan. Inisiatif ini pertama kali diluncurkan pada 2019 atas prakarsa Angkatan Laut Iran. Sejak pelaksanaan perdananya, latihan serupa telah digelar sebanyak tujuh kali, dengan partisipasi negara-negara yang relatif konsisten.

Melalui latihan ini, ketiga negara menunjukkan intensifikasi koordinasi militer di kawasan yang sensitif secara geopolitik. Selain aspek teknis pertahanan, kerja sama ini juga mencerminkan dinamika baru dalam hubungan internasional, terutama dalam konteks kompetisi pengaruh di jalur-jalur laut strategis dunia.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *