Dominasi EV China Guncang Raksasa Otomotif Jerman

JAKARTA – Transformasi ekonomi China dalam dua dekade terakhir kembali mengguncang lanskap industri global. Setelah gelombang pertama “China shock” pada awal 2000-an—ketika produk manufaktur murah membanjiri pasar dunia—kini muncul gelombang kedua yang berfokus pada teknologi tinggi. Jika sebelumnya negara-negara Barat memiliki waktu relatif panjang untuk beradaptasi, tekanan kali ini datang jauh lebih cepat, terutama bagi Jerman sebagai motor industri Eropa.

Tanda perubahan itu terlihat jelas sejak 2023, ketika mobil listrik buatan China mulai membanjiri pelabuhan-pelabuhan Eropa. Awalnya, banyak pihak meragukan kendaraan listrik asal Negeri Tirai Bambu mampu menyaingi reputasi produsen otomotif Jerman. Namun hanya dalam waktu dua tahun, produsen China justru tampil sebagai pemain disruptif di pasar Eropa.

Raksasa otomotif seperti Volkswagen, BMW, dan Mercedes-Benz mulai merasakan tekanan signifikan. Penjualan mereka melemah, baik di pasar domestik maupun di China. Data Eurostat menunjukkan ekspor kendaraan Jerman ke China menyusut hingga dua pertiga sejak 2022. Pada saat yang sama, arus impor produk China ke Jerman dan Eropa justru meningkat.

Persaingan yang semula terkonsentrasi di sektor otomotif kini meluas ke industri mesin, kimia, hingga sistem pembangkit listrik. Lembaga riset Rhodium Group yang berbasis di New York menilai ekspor Jerman ke China telah memasuki fase “kemunduran struktural”. Dalam tiga tahun terakhir, sekitar seperempat nilai ekspor Jerman ke China menguap.

“Jerman berada di jantung ‘China shock’ kedua,” ujar Andrew Small, Direktur Program Asia di European Council on Foreign Relations. “Dulu kedua ekonomi saling melengkapi; kini mereka berfungsi sebagai pesaing.”

China yang sebelumnya menjadi pasar ekspor utama atau kedua terbesar bagi Jerman kini turun ke peringkat kelima pada 2024, dan diproyeksikan terus merosot. Tidak hanya di China, perusahaan-perusahaan Jerman juga menghadapi tekanan di pasar ketiga seperti Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Afrika, di mana produk China menawarkan harga jauh lebih kompetitif.

Dalam konteks ini, Kanselir Friedrich Merz bersiap melakukan kunjungan resmi ke Beijing. Ia dihadapkan pada dilema: menjaga hubungan dagang yang vital dengan China sekaligus menanggapi kekhawatiran industri dalam negeri terkait akses pasar dan kelebihan kapasitas produksi China.

Sejak pandemi COVID-19, Jerman mulai menyadari tingginya ketergantungan terhadap rantai pasok China, terutama untuk komponen industri dan bahan baku strategis. Kebijakan “derisking” pun digaungkan, yakni upaya mengurangi risiko melalui diversifikasi pemasok.

Namun, menurut sejumlah analis, langkah “reset” total hubungan ekonomi dinilai sulit. Pendekatan yang lebih realistis adalah stabilisasi yang dikelola, sembari memperkuat posisi tawar melalui kebijakan bersama Uni Eropa.

Di tingkat regional, European Commission telah mengumumkan penyelidikan anti-dumping dan langkah perlindungan dagang terhadap distorsi pasar akibat kebijakan industri Beijing. Uni Eropa juga mendorong agenda “Buy European” dalam pengadaan publik serta mempercepat perjanjian dagang dengan India dan negara-negara Amerika Latin.

Isu strategis lain adalah dominasi China dalam produksi mineral tanah jarang—sekitar dua pertiga produksi global dan 90% kapasitas pemurnian. Pembatasan ekspor mineral kritis oleh Beijing tahun lalu sempat mengganggu industri otomotif di Eropa dan Amerika Serikat.

Sejumlah ekonom bahkan membandingkan tekanan terhadap industri Jerman dengan kemunduran Detroit, yang pernah menjadi pusat otomotif Amerika Serikat sebelum mengalami penurunan panjang. Tanpa strategi proteksi yang tegas dan koordinasi lintas negara, industri Jerman berisiko terus tergerus oleh pesaing yang lebih besar dan agresif.

Laporan Rhodium menilai bahwa tanpa ancaman kredibel untuk membatasi akses ke pasar Eropa, China tidak memiliki insentif untuk menahan laju ekspornya. Sementara itu, perusahaan-perusahaan Jerman harus beradaptasi cepat di tengah perubahan tatanan industri global yang semakin kompetitif. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *