Trump Tegaskan Alasan Pengerahan Militer ke Sekitar Iran
WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyoroti isu Iran dalam pidato kenegaraannya di hadapan Kongres AS pada Selasa (24/02/2026) waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan alasan di balik pengerahan besar-besaran aset militer Amerika Serikat ke kawasan sekitar Iran di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.
Pidato itu disampaikan saat hubungan Washington dan Teheran kembali memanas. Sejumlah pengamat bahkan menilai potensi konflik terbuka kian mendekat, terutama setelah langkah militer AS di kawasan Timur Tengah meningkat signifikan.
Trump menegaskan bahwa kebijakan pengerahan militer tersebut bertujuan mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Namun, ia tidak menguraikan secara rinci strategi jangka panjang yang akan ditempuh pemerintahannya jika ketegangan terus meningkat.
“Mereka (Iran-red) ingin membuat kesepakatan, tetapi kita belum mendengar kata-kata rahasia itu: Kami tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” kata Trump dalam bagian yang relatif singkat dari pidatonya tentang Iran.
Meski mengedepankan sikap tegas, Trump kembali menyebut diplomasi sebagai opsi yang tetap terbuka. Di sisi lain, kehadiran kekuatan militer AS di kawasan menunjukkan pesan tekanan yang kuat kepada Teheran.
Dalam beberapa pekan terakhir, dua kapal induk Amerika dikerahkan ke wilayah strategis tersebut. USS Abraham Lincoln telah lebih dahulu berada di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, USS Gerald R. Ford, yang dikenal sebagai kapal induk terbesar di dunia, tiba di pangkalan militer AS di Teluk Souda, Yunani. Kehadiran dua kapal induk ini dipandang sebagai sinyal kuat kesiapan militer Washington.
Dalam pidatonya, Trump juga mengulang klaim bahwa serangan udara AS pada Juni tahun lalu telah “memusnahkan program senjata nuklir Iran”. Meski demikian, ia menuduh Teheran kembali berupaya membangun ulang kemampuan tersebut.
“Mereka telah diperingatkan untuk tidak melakukan upaya-upaya lebih lanjut untuk membangun kembali program senjata mereka, khususnya, senjata nuklir. Namun mereka terus melakukannya, memulainya dari awal,” ucapnya.
“Kita telah menghancurkannya, dan mereka ingin memulainya lagi. Dan saat ini lagi, mereka mengejar ambisi jahat mereka,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut berseberangan dengan sikap resmi pemerintah Iran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kembali menegaskan bahwa negaranya tidak sedang mengembangkan bom nuklir. “Keyakinan mendasar kami sangat jelas: Iran dalam keadaan apa pun tidak akan pernah mengembangkan senjata nuklir,” tegas Araghchi melalui pernyataan di media sosial.
Saat ini, perundingan nuklir antara kedua negara masih berlangsung. Putaran terbaru dijadwalkan digelar di Jenewa, Swiss, dengan Oman berperan sebagai mediator dalam pembicaraan tidak langsung tersebut. Proses diplomasi ini dinilai krusial untuk meredakan ketegangan sekaligus mencegah eskalasi militer lebih lanjut.
Meski Iran berulang kali membantah mengembangkan senjata nuklir, sejumlah negara tetap meragukan komitmen tersebut. Di masa lalu, Iran diketahui memperkaya uranium hingga tingkat yang mendekati ambang material untuk senjata, meskipun Teheran bersikeras programnya bertujuan damai.
Situasi ini menempatkan hubungan AS-Iran pada titik sensitif. Di satu sisi, diplomasi masih berjalan. Di sisi lain, pengerahan kekuatan militer dalam skala besar menunjukkan bahwa opsi tekanan tetap menjadi bagian dari strategi Washington. Ketegangan yang terus meningkat membuat komunitas internasional memantau perkembangan ini dengan cermat, mengingat dampaknya dapat meluas ke stabilitas kawasan dan global.[]
Siti Sholehah.
