Puluhan Tahun Jual Tahu Tek, Pedagang Ini Tetap Eksis di Samarinda

SAMARINDA – Di tengah pesatnya perkembangan usaha kuliner di Kota Samarinda, seorang pedagang kaki lima tetap mempertahankan usahanya selama lebih dari empat dekade. Agus, penjual tahu tek yang berjualan di kawasan Jalan Mulawarman, masih setia melayani pelanggan setiap malam sejak memulai usahanya pada 1979.

Lapak sederhana milik Agus berada di seberang pos polisi dan tidak jauh dari Zoom Hotel Mulawarman Samarinda. Lokasi tersebut dipilih karena berada di kawasan yang cukup ramai aktivitas masyarakat, terutama pada malam hari.

“Saya mulai jualan tahun 1979. Dulu pertama di Jalan Flores, lalu pindah ke Jalan Mulawarman sampai sekarang,” kata Agus saat ditemui di lokasi jualannya, Sabtu (7/3/2026).

Pria asal Gresik, Jawa Timur, itu mengaku belajar membuat tahu tek dari seorang temannya yang telah lebih dulu berjualan. Dari pengalaman tersebut, ia mempelajari resep hingga cara penyajian sebelum akhirnya membuka usaha sendiri di Samarinda.

Sejak saat itu, Agus tetap mempertahankan cita rasa khas tahu tek yang menjadi daya tarik bagi pelanggan. Setiap hari ia mulai berjualan setelah salat Magrib hingga sekitar pukul 00.00 Wita.

“Saya jualan habis Magrib sampai sekitar jam 12 malam. Sekarang sudah tua, jadi tidak sekuat dulu,” ujarnya.

Dalam menjalankan usahanya, Agus mengaku sebagian besar pekerjaan masih dilakukan sendiri. Namun sesekali anggota keluarganya turut membantu ketika kondisi ramai pembeli.

Rata-rata dalam satu malam Agus dapat melayani puluhan pelanggan yang datang silih berganti, mulai dari pekerja malam hingga masyarakat yang mencari makanan ringan di kawasan pusat kota.

“Biasanya yang datang macam-macam, ada pekerja, anak muda, sampai orang yang pulang kerja malam,” katanya.

Menurut Agus, menjaga rasa menjadi strategi utama agar pelanggan tetap datang meski persaingan usaha kuliner semakin banyak. Ia mengaku tidak banyak melakukan perubahan pada resep yang telah digunakannya sejak awal berjualan.

Selain itu, harga yang relatif terjangkau juga menjadi salah satu alasan pelanggan tetap memilih tahu tek miliknya. Saat ini satu porsi tahu tek dengan tambahan telur dijual Rp15 ribu, sedangkan tanpa telur dibanderol Rp12 ribu.

Agus mengungkapkan kondisi usaha saat ini cukup berbeda dibandingkan masa awal berjualan. Ia merasakan persaingan usaha kuliner semakin meningkat, sementara harga bahan pokok terus mengalami kenaikan.

“Sekarang cari penghasilan lebih sulit dibandingkan dulu. Tapi Alhamdulillah masih cukup untuk makan sehari-hari,” ungkap ayah dari empat anak tersebut.

Ia mengenang masa 1980-an hingga 1990-an sebagai periode paling ramai bagi usahanya. Saat itu jumlah pedagang serupa belum banyak dan kawasan Jalan Mulawarman menjadi salah satu pusat aktivitas malam di Samarinda.

“Dulu pembeli lebih ramai karena saingan belum banyak dan tempat hiburan malam juga ramai,” kenangnya.

Dalam sehari, Agus mengaku rata-rata memperoleh pendapatan sekitar Rp300 ribu. Pendapatan tersebut harus mencukupi kebutuhan bahan baku sekaligus biaya hidup sehari-hari.

Keberadaan pedagang kaki lima seperti Agus juga menjadi bagian dari dinamika ekonomi informal di Kota Samarinda. Lapak-lapak makanan di pinggir jalan kerap menjadi pilihan masyarakat yang mencari makanan dengan harga terjangkau.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Agus tetap bersyukur dapat mempertahankan usahanya hingga lebih dari 40 tahun. Baginya, berdagang tahu tek bukan sekadar pekerjaan, tetapi telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya di Samarinda.

“Yang penting masih bisa jualan dan masih ada yang beli,” tutupnya. []

Penulis: Rifky Irlika Akbar | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *