Ramadan Dorong Pertumbuhan Industri Tekstil dan Pakaian Jadi
SONY DSC
JAKARTA – Momentum bulan Ramadan hingga perayaan Idulfitri diperkirakan kembali menjadi penggerak utama aktivitas industri dalam negeri, terutama sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) serta berbagai subsektor terkait. Pemerintah memastikan industri nasional telah mempersiapkan kapasitas produksi guna mengantisipasi lonjakan permintaan masyarakat selama periode tersebut.
Kementerian Perindustrian menyebutkan sektor industri seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, hingga produk penunjang ibadah menjadi komoditas yang mengalami peningkatan permintaan setiap Ramadan. Produk yang banyak dicari masyarakat antara lain busana muslim, sarung, mukena, perlengkapan ibadah, hingga alas kaki yang diproduksi oleh industri domestik.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kondisi sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang terus menunjukkan performa positif menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasokan produk di pasar.
“Kinerja sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang terus menunjukkan tren positif menjadi modal kuat bagi industri nasional dalam menjaga ketersediaan pasokan, kualitas produk, serta keterjangkauan harga di tengah meningkatnya konsumsi masyarakat menjelang Lebaran,” kata Agus dalam keterangannya, sebagaimana dilansir Peluang News, Jumat, (13/03/2026).
Menurutnya, periode Ramadan dan Idulfitri merupakan fase penting bagi industri TPT karena selalu diikuti peningkatan konsumsi domestik yang signifikan. Oleh karena itu, pelaku industri telah melakukan berbagai persiapan sejak awal tahun guna memastikan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Sepanjang 2025, sektor IKFT mencatat pertumbuhan sekitar 5,11 persen dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto nasional mencapai 3,87 persen. Dari sisi perdagangan internasional, nilai ekspor sektor tersebut tercatat sekitar 47,95 miliar dolar Amerika Serikat dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 6,71 juta orang.
Pada subsektor tekstil dan pakaian jadi, pertumbuhan tercatat sekitar 5,39 persen dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 3,7 juta orang. Hal ini menunjukkan besarnya kontribusi sektor tersebut dalam menopang perekonomian nasional.
“Pertumbuhan angka tersebut menunjukkan peran strategis sektor IKFT sebagai industri padat karya yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat,” ujar Agus.
Kinerja industri tekstil dan produk tekstil juga dinilai relatif stabil dengan pertumbuhan sekitar 4,64 persen. Meskipun dihadapkan pada dinamika perdagangan global, sektor ini masih mampu mempertahankan daya saing ekspor.
Agus menambahkan bahwa industri TPT, alas kaki, serta kosmetik merupakan sektor padat karya yang memiliki efek berganda bagi perekonomian karena melibatkan rantai pasok yang panjang, mulai dari penyediaan bahan baku hingga distribusi dan perdagangan ritel.
Selain produk sandang, peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Lebaran juga terjadi pada produk penunjang penampilan seperti kosmetik dan perawatan diri. Hingga akhir 2024, industri kosmetik mencatat pertumbuhan sekitar 4,3 persen dengan nilai ekspor mencapai 382,4 juta dolar Amerika Serikat.
Ia menilai momentum Ramadan juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri.
“Momentum Ramadan harus juga kita manfaatkan untuk mendorong belanja produk dalam negeri. Dengan membeli produk lokal, masyarakat tidak hanya berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, melainkan turut menjaga keberlangsungan industri serta meningkatkan kesejahteraan jutaan tenaga kerja yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini,” tuturnya.
Pemerintah sendiri terus berupaya memperkuat daya saing industri melalui berbagai kebijakan, di antaranya program substitusi impor, fasilitasi investasi, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta pengembangan industri berbasis inovasi dan sertifikasi, termasuk sertifikasi halal.
Peningkatan aktivitas produksi menjelang Lebaran juga dinilai memberi dampak positif bagi sektor ketenagakerjaan. Kenaikan permintaan membuat utilisasi kapasitas industri meningkat sehingga membuka peluang peningkatan produksi sekaligus menjaga stabilitas lapangan kerja.
Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, pemerintah optimistis industri tekstil, alas kaki, serta subsektor terkait akan tetap menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional, terutama pada momentum Ramadan dan Idulfitri yang selalu memicu peningkatan konsumsi domestik. []
Redaksi
