Bensin Mahal, Kendaraan Listrik Jadi Pilihan Baru Konsumen Asia

JAKARTA – Lonjakan harga minyak global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong perubahan signifikan dalam pola konsumsi energi, sekaligus mempercepat peralihan ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di berbagai negara, khususnya di kawasan Asia. Kondisi ini dinilai tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga memperkuat strategi ketahanan energi sejumlah negara pengimpor minyak.

Perubahan preferensi tersebut terjadi seiring meningkatnya biaya operasional kendaraan berbahan bakar fosil akibat kenaikan harga bensin. Di sisi lain, harga kendaraan listrik yang semakin terjangkau, terutama dari produsen China, membuat teknologi ini semakin kompetitif secara ekonomi, sebagaimana dilansir Kompas, Kamis (26/03/2026).

Analis industri menilai volatilitas harga energi global menjadi faktor utama yang mengubah pertimbangan konsumen. Managing Director (MD) Sino Auto Insights, Tu Le, menyebut momentum kenaikan harga bahan bakar membuka peluang besar bagi produsen kendaraan listrik China untuk memperluas pasar. “Ada potensi bagi merek-merek China untuk menembus pasar Asia secara signifikan karena tingginya biaya bensin,” ujar Tu Le. “Saya berharap mereka akan memanfaatkan hal itu sepenuhnya,” imbuh dia.

Selain faktor harga, keunggulan industri kendaraan listrik China juga ditopang oleh kapasitas produksi besar serta rantai pasok baterai yang terintegrasi. Kondisi ini memungkinkan produsen menawarkan EV dengan harga lebih rendah dibandingkan sejumlah kompetitor global.

Dari sisi dampak energi, lembaga pemikir energi Ember menilai penggunaan kendaraan listrik berperan besar dalam menekan konsumsi minyak dunia. Dalam laporannya, disebutkan bahwa adopsi EV pada tahun lalu telah mengurangi konsumsi minyak mentah global hingga 1,7 juta barel per hari (bph), setara sekitar 70 persen ekspor minyak Iran pada 2025.

Lead Analyst sekaligus Co-Founder (Pendiri Bersama) Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), Lauri Myllyvirta, mengatakan fluktuasi harga minyak yang berulang dapat mengubah persepsi publik terhadap kendaraan berbahan bakar fosil. “Ketika terjadi lonjakan harga tunggal dalam lingkungan inflasi rendah, orang dapat mengabaikannya,” papar Myllyvirta. “Jika ada kejadian serupa lagi, itu bisa menjadi momen ‘tertipu dua kali’ yang menegaskan fakta bahwa harga itu tidak stabil dan mengendarai kendaraan berbahan bakar bensin hanya membuat Anda tetap rentan terhadap fluktuasi harga tersebut,” tuturnya.

Ia menambahkan, penetrasi EV di China telah berkontribusi pada penurunan konsumsi minyak domestik hampir 10 persen dalam setahun terakhir. Hal ini mencerminkan efektivitas strategi elektrifikasi transportasi dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Sementara itu, Executive Director (Direktur Eksekutif) Institute of Middle East Studies (IMS) Peking University HSBC Business School, Zhu Zhaoyi, menilai ketidakstabilan pasokan energi global menjadi pelajaran penting bagi China. “Kepemimpinan China sudah pernah menyaksikan skenario ini sebelumnya. Setiap kali terjadi ketidakstabilan di Timur Tengah, hal itu memperkuat pelajaran yang sama: bergantung pada impor bahan bakar fosil bukan hanya buruk bagi lingkungan, tetapi juga merupakan masalah keamanan nasional.” kata Zhu.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi mempercepat target puncak emisi China pada 2030 serta netral karbon pada 2060. Upaya ini dilakukan melalui percepatan elektrifikasi sektor transportasi dan pengurangan ketergantungan terhadap energi fosil impor.

Secara global, China saat ini menjadi pemain dominan dalam industri kendaraan listrik dengan ekosistem yang mencakup produksi baterai, manufaktur kendaraan, hingga infrastruktur pengisian daya. Keunggulan biaya produksi menjadikan produk mereka semakin kompetitif, khususnya di negara berkembang yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi.

Krisis energi global pun dinilai mempertegas keterkaitan antara geopolitik, pasar energi, dan inovasi teknologi. Dalam situasi ini, kendaraan listrik menjadi salah satu solusi strategis untuk mengurangi tekanan terhadap impor energi sekaligus mendorong transformasi sektor transportasi menuju sistem yang lebih berkelanjutan. []

Penulis: Sakina Rakhma Diah Setiawan | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *