Pasar Saham Berguguran, IHSG Turun 1,21% Dipicu Sentimen Perang
JAKARTA – Tekanan geopolitik global kembali menghantam pasar keuangan Asia, mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi signifikan pada perdagangan sesi I Kamis (26/03/2026). IHSG ditutup melemah 1,21% atau 88,03 poin ke level 7.214,08, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah dominasi sentimen negatif global. Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menyentuh level terendah 7.196,91 dan tertinggi 7.323,7. Aktivitas pasar tercatat dengan volume 19,58 miliar saham, nilai transaksi Rp25,95 triliun, serta frekuensi perdagangan mencapai 1,04 juta kali. Indeks LQ45—yang berisi saham berkapitalisasi besar dan likuid—turut turun 1,33% atau 9,95 poin ke posisi 736,495.
Tekanan jual meluas hampir ke seluruh sektor. Sektor energi memimpin pelemahan dengan penurunan 2,05%, diikuti sektor perindustrian 2,03% dan teknologi 1,26%. Sejumlah saham mencatat penurunan tajam, di antaranya PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) yang merosot 15%, PT Indospring Tbk (INDS) turun 14,9%, serta PT Island Concepts Indonesia Tbk (ICON) yang melemah 14,8%.
Kondisi serupa juga terjadi di mayoritas bursa Asia. Indeks KOSPI di Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam sebesar 3,41%, disusul berbagai indeks lain seperti KOSDAQ, Hang Seng, Shenzhen Composite, Ho Chi Minh Stock, CSI 300, PSEI, Shanghai Composite, Topix, NIKKEI 225, SET Index, Taiwan TAIEX, hingga KLCI yang bergerak di zona merah.
Akar tekanan pasar berasal dari meningkatnya ketegangan konflik antara Amerika Serikat (AS)–Israel dan Iran. Presiden AS Donald Trump memang menyerukan perundingan damai, namun di saat bersamaan memerintahkan penambahan pasukan dalam jumlah besar ke kawasan tersebut. Langkah ini memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi militer yang lebih luas, termasuk potensi invasi darat.
Iran menolak pendekatan diplomasi tersebut dan menyatakan akan melakukan pembalasan jika terjadi pengerahan pasukan darat. Laporan sumber menyebutkan Pentagon telah mengerahkan dua Unit Ekspedisi Marinir yang terdiri dari sekitar 5.000 personel lengkap dengan pesawat dan kendaraan amfibi, serta tambahan lebih dari 1.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan Timur Tengah.
Kekhawatiran tidak hanya terbatas pada konflik militer, tetapi juga merembet ke sektor energi dan ekonomi kawasan Asia. Korea Selatan membentuk gugus tugas ekonomi darurat, Filipina menetapkan status darurat nasional terkait potensi krisis energi, sementara Jepang meninjau ulang rantai pasokan minyak. Perdana Menteri India Narendra Modi bahkan memperingatkan potensi tantangan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi negaranya.
Kepala Asia Tenggara Konsultan Risiko Eurasia Group, Peter Mumford, mengatakan kawasan Asia sangat rentan terhadap dampak konflik berkepanjangan dan lonjakan harga energi global. “Kawasan ini sangat rentan terhadap konflik berkepanjangan dan guncangan harga energi global,” sebagaimana diberitakan Bisnis, Kamis (26/03/2026).
Ia menambahkan bahwa dampak lanjutan yang perlu diwaspadai mencakup gangguan transportasi udara, aktivitas perikanan yang terhenti, hingga penurunan sektor pariwisata akibat ketidakpastian global.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati dalam jangka pendek sembari mencermati perkembangan geopolitik dan stabilitas pasokan energi global yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan pasar selanjutnya. []
Penulis: Donny Setiawan | Penyunting: Redaksi01
