Garuda Indonesia Mulai Bangkit, Saham Melonjak 20 Persen

JAKARTA – Prospek pemulihan kinerja PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mulai menjadi sorotan pasar setelah sahamnya melonjak signifikan pada perdagangan Kamis (26/03/2026), seiring keluarnya emiten pelat merah tersebut dari papan pemantauan khusus full call auction (FCA) di Bursa Efek Indonesia.

Saham GIAA tercatat naik 20,5 persen ke level Rp88 hingga penutupan sesi I. Lonjakan ini dipicu perbaikan fundamental perusahaan, terutama setelah posisi ekuitas kembali positif pada akhir 2025 sebesar US$ 91,9 juta, berkat tambahan modal dari Danantara Indonesia senilai Rp23,7 triliun atau sekitar US$ 1,4 miliar. Sebelumnya, GIAA mengalami ekuitas negatif sejak 2020.

“Kenaikan itu seiring keluarnya saham GIAA dari papan pemantauan khusus full call auction (FCA). GIAA masuk ke papan pengembangan,” tulis Stockbit Sekuritas dalam catatannya, sebagaimana dilansir Investor, Kamis (26/03/2026).

Meski sinyal pemulihan mulai terlihat, kinerja keuangan perusahaan masih menghadapi tekanan. Sepanjang 2025, GIAA mencatat rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 322,48 juta atau sekitar Rp5,4 triliun, meningkat dibandingkan kerugian tahun sebelumnya sebesar US$ 72,7 juta. Pendapatan usaha juga turun menjadi US$ 3,21 miliar dari US$ 3,41 miliar pada periode sebelumnya.

Namun, optimisme terhadap kinerja ke depan mulai menguat. Maskapai milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini menargetkan pemulihan bertahap melalui delapan strategi utama, antara lain restrukturisasi keuangan melalui skema debt to equity swap, efisiensi armada dan biaya operasional, serta optimalisasi rute penerbangan berbasis margin. Selain itu, perusahaan juga memperkuat yield management, melakukan penyegaran manajemen, serta mendorong transformasi budaya dan kemitraan strategis.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jason Sebastian, menilai pemulihan kinerja GIAA berpotensi mulai terlihat dalam dua tahun ke depan. “Pemulihan diperkirakan mulai terlihat pada 2026. Dari sisi operasional, kami memperkirakan GIAA akan mulai memulihkan kinerja laba pada 2026-2027,” tulisnya.

Dari sisi proyeksi, pendapatan GIAA diperkirakan meningkat menjadi US$ 3,7 miliar pada 2026 atau naik 13,7 persen secara tahunan, dan kembali tumbuh menjadi US$ 4 miliar pada 2027. Laba bersih juga diproyeksikan berbalik positif menjadi US$ 3 juta pada 2026 dan meningkat signifikan menjadi US$ 59 juta pada 2027, didukung disiplin biaya dan penurunan beban utang.

Berdasarkan proyeksi tersebut, Samuel Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham GIAA dengan target harga Rp130 per saham. Penilaian ini mengacu pada valuasi enterprise value to earnings before interest, tax, depreciation, amortization, and rent (EV/EBITDAR) sebesar 9 kali, sejalan dengan rata-rata industri penerbangan.

Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, antara lain potensi melemahnya permintaan penumpang, kenaikan harga bahan bakar avtur, serta beban bunga utang yang lebih tinggi dari perkiraan. []

Penulis: Jauhari Mahardhika | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *