Kreatif! Warga Kendal Ubah Terowongan Tol Jadi Pasar Rakyat
KENDAL – Pemanfaatan ruang di bawah jalan tol di Desa Rowobranten, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, berkembang menjadi pusat ekonomi alternatif yang mendorong aktivitas perdagangan warga setempat, sekaligus menghadirkan kemudahan akses belanja bagi masyarakat sekitar.
Lorong terowongan tol yang semula hanya menjadi bagian dari infrastruktur kini berubah fungsi menjadi pasar nonformal. Beragam kebutuhan harian dijajakan di lokasi tersebut, mulai dari sayur-mayur, bumbu dapur, hingga makanan siap santap. Kondisi area yang terlindung dari panas dan hujan membuat aktivitas jual beli berlangsung sepanjang hari tanpa hambatan cuaca.
Fenomena ini, sebagaimana diberitakan Radar Pekalongan, Rabu, (25/03/2026), menunjukkan meningkatnya inisiatif warga dalam memanfaatkan ruang publik untuk kegiatan ekonomi produktif.
Salah satu pedagang, Bisri, mengaku telah berjualan di lokasi tersebut selama setahun terakhir setelah sebelumnya berdagang di Pasar Banjarsari, Pekalongan selama dua dekade. Ia kini menjalankan usahanya bersama anaknya dengan jam operasional panjang, sejak pagi hingga malam hari.
“Sekarang lebih dekat dengan rumah dan lebih efisien. Awalnya saya ingin menampung hasil petani sayur di sini, tapi ternyata di Rowobranten sendiri sudah habis terjual,” ujarnya.
Perputaran ekonomi di kawasan ini terbilang signifikan. Dalam kondisi normal, pedagang dapat meraih omzet sekitar Rp1 juta per hari, bahkan meningkat hingga Rp1,5 juta saat jumlah pengunjung membludak. Selain pedagang sayur, terdapat pula penjual makanan seperti mi ayam, bakso, hingga minuman, serta pedagang buah dari luar daerah.
Keberadaan fasilitas tambahan seperti area bermain anak turut meningkatkan daya tarik lokasi ini sebagai ruang interaksi sosial sekaligus pusat kegiatan keluarga.
Dari sisi konsumen, kemudahan akses dan kelengkapan barang menjadi alasan utama memilih berbelanja di tempat tersebut. Salah seorang pengunjung, Khamidah, mengaku rutin singgah saat melintas di wilayah itu.
“Kalau pulang dari saudara di Rowobranten, saya pasti mampir. Di sini lengkap, tidak perlu ke pasar lagi. Praktis dan cepat,” katanya.
Meski memberikan dampak ekonomi positif, pemanfaatan ruang di bawah tol tetap diawasi. Perwakilan Jasa Raharja mengingatkan agar aktivitas perdagangan tidak melanggar ketentuan yang berlaku, terutama terkait larangan pembangunan lapak permanen dan kewajiban menjaga kebersihan lingkungan.
“Kami ingatkan, jangan sampai ada lapak permanen. Kebersihan harus dijaga agar fungsi jalan tetap aman,” tegas perwakilan Jasa Raharja.
Keberadaan pasar nonformal ini menjadi contoh adaptasi masyarakat dalam mengoptimalkan ruang terbatas tanpa mengganggu fungsi utama infrastruktur, sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi lokal di tengah keterbatasan lahan usaha. []
Penulis: Bayu adi | Penyunting: Redaksi01
