Minyak Tembus US$100, Rupiah Tertekan di Awal Perdagangan

JAKARTA – Tekanan eksternal akibat lonjakan harga energi global kembali menyeret nilai tukar rupiah ke zona pelemahan pada pembukaan perdagangan, Jumat. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya risiko eksternal yang membayangi stabilitas mata uang domestik di tengah ketegangan geopolitik global.

Rupiah tercatat melemah 0,12 persen ke level Rp16.924 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan tren negatif mayoritas mata uang Asia pada perdagangan pagi, yang tertekan oleh sentimen global, terutama kenaikan harga minyak mentah dunia.

Harga minyak mentah jenis brent yang menembus level 100 dolar AS per barel menjadi faktor utama tekanan. Lonjakan ini dipicu ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global, sebagaimana dilansir Bloombergtechnoz, Jumat, (27/03/2026).

Di kawasan Asia, tekanan terhadap mata uang terlihat merata, meskipun beberapa mata uang seperti yen Jepang, won Korea Selatan, dan yuan offshore justru mencatat penguatan terbatas. Namun secara keseluruhan, sentimen pasar tetap cenderung risk-off akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis energi.

Dampak lanjutan dari kenaikan harga minyak mulai dirasakan sejumlah negara. Filipina menetapkan status darurat energi untuk mengantisipasi gangguan pasokan, sementara Malaysia merencanakan pengurangan kuota bahan bakar bersubsidi guna menjaga ketahanan fiskal.

Di dalam negeri, respons kebijakan turut menjadi perhatian pelaku pasar. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan efisiensi anggaran hingga Rp120 triliun sebagai upaya menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan global.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mengambil langkah hati-hati dalam kebijakan moneter. Ruang pelonggaran suku bunga dinilai terbatas karena otoritas moneter perlu menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mengantisipasi potensi inflasi impor akibat kenaikan harga energi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga sangat sensitif terhadap dinamika global, khususnya terkait energi dan geopolitik. Ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang masih berlanjut. []

Penulis: Rizky Mahendra | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *