Bukan Lagi Makanan, Pemudik Kini Borong Jaket Khas Kuningan
KUNINGAN – Pergeseran tren oleh-oleh pada arus mudik 2026 di Kabupaten Kuningan (Kuningan) menunjukkan perubahan signifikan, dari dominasi kuliner tradisional menuju produk fesyen lokal yang mengangkat identitas daerah, dengan merek Kaskun menjadi salah satu pilihan utama pemudik.
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap produk kreatif yang tidak hanya berfungsi sebagai buah tangan, tetapi juga sebagai simbol kebanggaan terhadap daerah asal. Produk fesyen seperti jaket varsity dan kaos dengan sentuhan ikon lokal mulai banyak diburu pemudik yang ingin membawa cerita daerah ke kota perantauan.
Pemilik Kaskun, Sahrudin, menyebut tren tersebut sebagai bentuk ekspresi emosional para perantau terhadap kampung halaman. “Kami ingin pemudik membawa pulang kebanggaan. Jadi, saat mereka kembali ke kota besar, ada cerita tentang Kuningan yang melekat di pakaian mereka,” ujarnya sebagaimana dilansir Rri, Kamis, (26/03/2026).
Ia menjelaskan, desain produk Kaskun mengangkat elemen khas daerah seperti Gunung Ciremai serta nilai filosofi lokal yang dikemas dalam gaya modern agar tetap relevan dengan selera pasar, khususnya kalangan muda.
Minat terhadap produk tersebut juga dirasakan oleh pembeli. Nanang, seorang pemudik asal Jakarta, mengaku tertarik karena desain yang unik dan tidak pasaran. “Desainnya masuk ke selera anak muda maupun dewasa. Saya sengaja borong untuk rekan kerja di Jakarta. Ini cara paling keren memperkenalkan kualitas kreatif Kuningan,” ucapnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan selama periode mudik, Kaskun memperluas jangkauan distribusi dengan membuka sejumlah titik penjualan di jalur strategis, seperti kawasan Jalaksana, objek wisata Cisantana, Jagara Eco Park, hingga Bunderan Cijoho. Layanan operasional dibuka mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB selama 22–27 Maret 2026.
Perkembangan ini sekaligus menegaskan bahwa sektor ekonomi kreatif di Kuningan mulai menunjukkan daya saing yang kuat. Produk fesyen berbasis identitas lokal tidak hanya menjadi alternatif oleh-oleh, tetapi juga berpotensi memperluas pasar industri kreatif daerah ke tingkat nasional bahkan global. []
Penulis: Andini Rahmawati | Penyunting: Redaksi01
