Efek Damai Sementara: Saham Global Naik, Minyak Terperosok 19 Persen

JAKARTA – Sentimen positif menyapu pasar global setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada Rabu, yang langsung memicu reli bursa saham dunia sekaligus menekan tajam harga minyak mentah ke level terendah dalam hampir enam tahun terakhir.

Reaksi pasar tersebut terjadi pada 8 April 2026, menyusul keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menangguhkan serangan militer terhadap Iran selama dua pekan. Kebijakan ini membuka kembali jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi sumber kekhawatiran utama investor.

Minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat anjlok hingga 19 persen, sementara indeks saham global menguat signifikan. Indeks acuan Asia Morgan Stanley Capital International (MSCI) naik 1,8 persen, sedangkan kontrak berjangka di bursa Amerika Serikat melonjak lebih dari 2 persen.

Keputusan tersebut diumumkan menjelang batas waktu yang ditetapkan pemerintah AS kepada Iran untuk mencapai kesepakatan. Iran pun menyatakan kesiapan menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata berlangsung.

“Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump dalam unggahannya di Truth Social, sebagaimana dilansir Bloomberg News, Rabu (08/04/2026).

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut “bergantung pada persetujuan Republik Islam Iran untuk membuka Selat Hormuz secara LENGKAP, SEGERA, dan AMAN.”

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui platform X menyampaikan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan militer untuk memastikan jalur pelayaran tetap aman, dengan mempertimbangkan berbagai batasan teknis.

Meredanya ketegangan geopolitik turut mengubah arah aliran dana global. Investor mulai kembali melirik aset berisiko seiring membaiknya risk sentiment, setelah sebelumnya cenderung mengamankan dana pada instrumen safe haven. Indeks dolar AS tercatat melemah 0,7 persen, sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun empat basis poin.

Analis pasar dari Pepperstone, Michael Brown, menilai kondisi ini sebagai angin segar bagi pelaku pasar. “Seperti yang telah dicatat berkali-kali, para pelaku pasar sudah sangat merindukan berita baik selama beberapa minggu terakhir, dan lebih berharap lagi melihat langkah nyata menuju deskalasi,” ujarnya.

Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan bahwa kesepakatan tersebut masih bersifat sementara dan belum memberikan kepastian jangka panjang. Ahli strategi dari Commonwealth Bank of Australia, Carol Kong, menilai arah konflik masih belum sepenuhnya jelas.

“Hal yang krusial adalah belum ada rencana bagaimana perang ini akan berakhir,” katanya.

Ia menambahkan, “Kami tetap memperkirakan AS pada akhirnya harus melakukan eskalasi untuk mengakhiri perang. Jadi, meskipun dolar mungkin melemah dalam jangka pendek, mata uang tersebut akan sulit mempertahankan pelemahannya secara berkelanjutan.”

Selain saham dan minyak, sejumlah aset lain juga mengalami pergerakan signifikan. Mata uang euro dan yen Jepang menguat terhadap dolar AS, sementara aset kripto seperti Bitcoin dan Ether mencatat kenaikan masing-masing 3,8 persen dan 6,2 persen.

Sementara itu, harga emas dunia turut naik sebagai respons terhadap dinamika pasar, meskipun minat terhadap aset berisiko mulai kembali meningkat.

Kendati pasar merespons positif, ketidakpastian tetap membayangi karena detail kesepakatan belum sepenuhnya diungkap. Investor pun masih mencermati perkembangan lanjutan guna memastikan keberlanjutan stabilitas pasar global ke depan. []

Penulis: Aditya Saputra | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *