Harga Emas Tertahan, Inflasi dan Suku Bunga Jadi Sorotan
JAKARTA – Harga emas global cenderung tertahan pada perdagangan Rabu (08/04/2026) di tengah sikap wait and see pelaku pasar yang menanti kepastian arah kebijakan Amerika Serikat terkait konflik dengan Iran.
Berdasarkan data pasar, harga emas berada di level USD 4.648,32 per ons setelah sempat menguat sekitar 1 persen pada awal sesi. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat justru terkoreksi 0,3 persen ke USD 4.670,90.
Kondisi ini terjadi menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Iran untuk membuka kembali jalur strategis di Selat Hormuz atau menghadapi eskalasi serangan militer.
Analis Senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menyebut pelaku pasar masih menahan diri sembari menunggu perkembangan situasi. “Pasar emas stagnan menjelang batas waktu pukul 8 malam Waktu Bagian Timur yang ditetapkan AS malam ini. Pasar sedang menunggu karena para pedagang ingin melihat apa yang akan terjadi,” ujarnya, sebagaimana dilansir CNBC, Rabu (08/04/2026).
Menurutnya, perhatian investor saat ini tidak hanya tertuju pada geopolitik, tetapi juga kebijakan suku bunga bank sentral global. “Para pedagang emas lebih fokus pada apa yang mungkin dilakukan bank sentral dengan suku bunga mereka daripada geopolitik. Jika ekonomi-ekonomi utama menunda penurunan suku bunga, hal itu dapat diartikan sebagai penurunan permintaan emas,” katanya.
Di tengah ketegangan tersebut, harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi global, yang pada akhirnya membatasi ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga.
Situasi suku bunga tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Meski dikenal mampu menjaga nilai saat inflasi meningkat, emas cenderung kurang diminati ketika imbal hasil instrumen lain lebih menarik.
Selain perkembangan geopolitik dan energi, pasar juga mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk risalah rapat bank sentral (Federal Reserve), data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), serta Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI).
Di sisi lain, permintaan emas global masih mendapat dukungan dari pembelian bank sentral, terutama dari China yang tercatat melanjutkan akumulasi emas selama 17 bulan berturut-turut.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya menunjukkan tren pelemahan. Harga perak turun 2,7 persen ke USD 70,83 per ons, platinum melemah 3,4 persen ke USD 1.911,37, dan paladium terkoreksi 4,3 persen ke USD 1.421,75.
Dengan kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian, pergerakan harga emas dalam jangka pendek diperkirakan tetap fluktuatif, bergantung pada perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. []
Penulis: Septian Deny | Penyunting: Redaksi01
