Pasar Apartemen Melemah, Developer Dituntut Ubah Strategi

JAKARTA – Minat investor terhadap hunian vertikal terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, seiring melemahnya imbal hasil (yield) dan meningkatnya biaya operasional yang membebani kepemilikan apartemen.

Fenomena ini tercermin dari meningkatnya jumlah unit apartemen yang belum terserap pasar, sekaligus menandai pergeseran preferensi dari instrumen investasi menuju kebutuhan hunian langsung oleh masyarakat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Realestat Indonesia (REI), Raymond Arfandy, mengungkapkan bahwa penurunan penjualan apartemen dipicu oleh perubahan persepsi investor terhadap potensi keuntungan sektor ini. “Penjualan apartemen terus menurun,” ujarnya sebagaimana diberitakan Bisnis, Selasa, (08/04/2026).

Menurutnya, sebelumnya apartemen menjadi salah satu instrumen investasi unggulan, namun kini daya tarik tersebut memudar karena tingkat pengembalian yang tidak lagi kompetitif dibandingkan instrumen lain.

Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya likuiditas masyarakat dan perlambatan ekonomi yang memengaruhi kemampuan investor dalam menanamkan modal pada sektor properti vertikal. Akibatnya, banyak unit apartemen tidak terjual dan mengendap di pasar.

Data dari Konsultan Properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam komposisi kepemilikan apartemen. Pada kuartal IV 2025, sebanyak 52 persen unit dimiliki oleh pengguna langsung (end user), sementara investor hanya menguasai 48 persen.

Perbandingan ini berbalik dari kondisi pada 2013, ketika investor mendominasi pasar hingga 60 persen, sedangkan pengguna langsung hanya sekitar 40 persen. Pergeseran ini menandakan berubahnya orientasi pasar dari investasi ke kebutuhan hunian.

Senior Associate Director Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menambahkan bahwa selisih imbal hasil apartemen dengan instrumen lain semakin lebar. Pada 2023, yield apartemen tercatat sebesar 3,92 persen, lebih rendah dibandingkan bunga deposito yang mencapai 5,05 persen, dengan selisih 113 basis poin (bps).

Situasi ini berbeda dengan kondisi 2017, ketika yield apartemen berada di kisaran 5,6 persen dan relatif seimbang dengan deposito sebesar 5,98 persen. Selisih tipis saat itu membuat apartemen masih menjadi pilihan investasi yang menarik.

Dengan tren tersebut, pelaku industri menilai sektor hunian vertikal membutuhkan penyesuaian strategi, baik dari sisi harga, inovasi produk, maupun skema pembiayaan agar kembali diminati investor. Tanpa langkah adaptif, pasar apartemen diperkirakan akan terus mengalami tekanan di tengah kompetisi instrumen investasi lainnya. []

Penulis: Indri Permatasari | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *