Pedagang pentol goreng di Linggang Bigung, Kubar, mempertahankan usaha sejak 2005 dengan strategi menyesuaikan ukuran produk di tengah kelangkaan dan kenaikan harga bahan baku.
KUTAI BARAT – Seorang pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) penjual pentol goreng telur di Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), yang akrab disapa “Paklek”, bertahan menjalankan usahanya sejak 2005 dengan berbagai strategi di tengah tantangan bahan baku dan kenaikan harga.
Dalam wawancara pada Rabu (08/04/2026), Paklek mengungkapkan bahwa usaha yang dirintisnya bermula dari kebutuhan bertahan hidup saat merantau. “Sudah lama ini, sekitar tahun 2005. Latar belakangnya ya untuk bertahan hidup, namanya di perantauan, apa saja yang penting halal,” ujarnya.
Selama lebih dari dua dekade berjualan di Linggang Bigung, Kubar, ia menghadapi kendala utama berupa ketersediaan bahan baku yang kerap tidak stabil. “Kendalanya ya sering ketersediaan bahan baku kosong, susah dicari, langka,” jelasnya.
Selain kelangkaan, kenaikan harga bahan baku yang terjadi hampir setiap tahun juga menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan usahanya. “Kalau kenaikan, ya setiap tahun naik terus,” katanya.
Untuk menjaga daya beli pelanggan, Paklek memilih tidak menaikkan harga jual, melainkan menyiasati ukuran produk. Ia mengaku tetap menjaga cita rasa meski ukuran porsi diperkecil. “Ya disiasati, diperkecil ukurannya. Rasanya tetap, tapi ukurannya berkurang,” ungkapnya.
Dalam kesehariannya, Paklek tidak hanya menjual pentol goreng telur, tetapi juga berbagai jajanan lain seperti sosis goreng, pangsit, nugget, serta pentol goreng khas Kubar yang dikenal sebagai cireng. Seluruh dagangannya dijual dengan harga terjangkau, yakni Rp1.000 per porsi kecil.
Dengan pengalaman usaha lebih dari 20 tahun, Paklek berharap usahanya dapat terus bertahan dan berkembang di tengah berbagai dinamika ekonomi. “Harapan semoga lancar,” tutupnya. []
Penulis: Nia Ariska | Penyunting: Aulia Setyaningrum