IHSG Melonjak 4,42 Persen, Damai AS-Iran Picu Euforia Pasar
JAKARTA – Lonjakan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu, 8 April 2026, mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap pasar Indonesia setelah meredanya ketegangan geopolitik, ditandai dengan kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran.
IHSG ditutup menguat 308,18 poin atau 4,42 persen ke level 7.279,2. Penguatan ini diikuti derasnya arus dana asing yang mencatat pembelian bersih (net buy) sebesar Rp632,88 miliar di seluruh pasar, dengan Rp573,21 miliar di pasar reguler.
Sentimen positif tersebut dipicu oleh membaiknya kondisi global usai pengumuman gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini mendorong pelaku pasar masuk ke aset berisiko (risk-on), sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia.
Salah satu saham yang paling diincar investor asing adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp142,79 miliar. Saham ini turut terdongkrak hingga naik 7,69 persen ke level Rp3.780 per saham.
“Pengumuman gencatan senjata yang disampaikan oleh Donald Trump membawa angin segar bagi para investor,” sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz, Rabu, (08/04/2026).
Selain BBNI, sejumlah saham lain juga menjadi incaran investor asing, antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), hingga PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mencatatkan pembelian bersih signifikan.
Di sisi lain, aksi ambil untung (profit taking) tetap terjadi pada beberapa saham, terutama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang mencatat penjualan bersih terbesar sebesar Rp365,78 miliar. Meski demikian, saham BBRI masih mampu menguat 3,41 persen ke level Rp3.340 per saham.
Penguatan pasar saham juga sejalan dengan penurunan harga minyak mentah global. Minyak Brent turun lebih dari 10 persen mendekati US$92 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$91,7 per barel. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya risiko gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik.
Seorang ahli strategi dari Daiwa Asset Management Co., Kazunori Tatebe, menilai bahwa meskipun durasi gencatan senjata relatif singkat, pasar tetap merespons positif. Ia menyebut ekspektasi terhadap perkembangan lanjutan menjadi pendorong utama optimisme investor.
Secara keseluruhan, reli IHSG menunjukkan bahwa stabilitas geopolitik global memiliki peran krusial dalam membentuk arah pasar keuangan domestik. Jika kondisi kondusif ini berlanjut, arus modal asing berpotensi terus mengalir dan memperkuat kinerja pasar saham Indonesia dalam jangka pendek. []
Penulis: Rizky Mahendra | Penyunting: Redaksi01
