Minyak Turun Drastis ke Bawah 100 Dolar, Pasar Sambut Gencatan Senjata

NEW YORK – Penurunan tajam harga minyak mentah dunia terjadi pada akhir perdagangan Rabu, 8 April 2026 waktu setempat, dipicu ekspektasi pasar terhadap pemulihan pasokan energi global setelah pengumuman gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga minyak mentah jenis Brent tercatat merosot 14,52 dolar AS atau 13,29 persen ke level 94,75 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dalam sebesar 18,54 dolar AS atau 16,41 persen menjadi 94,41 dolar AS per barel.

Penurunan ini dipengaruhi harapan dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari. Prospek kelancaran distribusi energi tersebut mendorong pasar merespons dengan aksi jual yang signifikan.

“Harga minyak turun sebagai antisipasi pembukaan kembali selat dan pasokan energi yang telah menumpuk dapat melewati jalur pelayaran tersebut,” ujar Pendiri Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, sebagaimana dilansir Kompas, Kamis, (09/04/2026).

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran. Kebijakan ini muncul setelah sempat terjadi eskalasi ketegangan yang memicu kekhawatiran gangguan distribusi energi global.

“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!” tulis Trump dalam pernyataannya di media sosial.

Meski demikian, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya stabil. Israel dilaporkan tetap melancarkan serangan ke Lebanon, sementara kelompok Hizbullah menghentikan serangan ke wilayah Israel utara dalam kerangka kesepakatan tersebut.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengungkapkan adanya pelanggaran terhadap sejumlah poin kesepakatan, termasuk serangan militer dan pelanggaran wilayah udara Iran.

Ketidakpastian juga masih membayangi Selat Hormuz, karena otoritas Iran dilaporkan tetap membatasi lalu lintas kapal tertentu. Seorang pejabat Iran bahkan menyebut pembukaan jalur tersebut kemungkinan dilakukan secara terbatas menjelang pertemuan lanjutan dengan pihak AS.

Analis Raymond James, Pavel Molchanov, menilai stabilitas distribusi energi akan menjadi faktor kunci pergerakan harga minyak ke depan. “Lalu lintas kapal yang aman di Selat Hormuz akan menjadi poin utama dalam pembicaraan. Harga minyak kemungkinan tetap tinggi dibandingkan sebelum perang hingga ada bukti normalisasi pengiriman,” ucapnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pasar merespons positif sinyal perdamaian, faktor risiko geopolitik masih menjadi penentu utama arah harga energi global dalam waktu dekat. []

Penulis: Yohana Artha Uly | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *