Dulu Ramai, Kini Sepi: Nasib Pasar Ujung Murung Banjarmasin
BANJARMASIN – Penurunan aktivitas ekonomi di Pasar Ujung Murung, Kota Banjarmasin, semakin terasa setelah pandemi Covid-19, ditandai dengan berkurangnya jumlah pengunjung dan kondisi bangunan yang kian memprihatinkan hingga memaksa pedagang bertahan di tengah tekanan persaingan dan minimnya revitalisasi.
Pasar tradisional yang dahulu menjadi pusat perdagangan ini kini menghadapi tantangan serius, mulai dari sepinya pembeli, kerusakan fisik bangunan, hingga perubahan pola belanja masyarakat ke platform online. Kondisi tersebut membuat sebagian kios kosong, bahkan ada bangunan yang miring dan roboh.
Pedagang kain sekaligus Wakil Ketua Paguyuban Pasar Ujung Murung H Tani mengungkapkan penurunan aktivitas pasar terjadi secara signifikan sejak pandemi.
“Dulu tahun 97-an ramai terus. Setelah Covid-19, sepi sekali sampai sekarang,” ujar Tani, sebagaimana dilansir Banjarmasinpost, Jumat, (09/04/2026).
Meski demikian, sejumlah pelanggan lama masih bertahan, terutama untuk kebutuhan khusus seperti pakaian salat dan sajadah. Pembeli tersebut umumnya datang dalam jumlah terbatas, namun melakukan transaksi dalam skala besar.
“Belanjanya juga biasa banyak,” tambahnya.
Persaingan dengan pasar online diakui menjadi tantangan utama. Namun, pedagang menilai pasar tradisional tetap memiliki keunggulan, terutama dalam memberikan pengalaman belanja langsung kepada konsumen.
“Banyak juga orang jera berbelanja online, karena barang tak sesuai iklan. Kalau di sini pembeli bisa melihat, memegang langsung barang, kalau tidak cocok juga bisa langsung ditukar,” ungkap Tani.
Selain faktor persaingan, kondisi fisik pasar yang tidak terawat turut mempercepat penurunan jumlah pengunjung. Tani menyebut aktivitas pasar terakhir kali meningkat signifikan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, namun kembali menurun setelahnya.
Para pedagang berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Banjarmasin segera merealisasikan rencana revitalisasi pasar yang sebelumnya sempat disampaikan. Mereka mengaku siap mendukung upaya perbaikan demi menghidupkan kembali aktivitas perdagangan.
“Untuk tanah, sebagian besar kami sudah bersertifikat khususnya Ujung Murung ini. Kalau memang mau dibangun kembali, mau direhab, kami siap. Katanya Wali Kota HM Yamin mau ke sini tapi buktinya tidak ada,” ungkap Tani.
Pedagang juga membuka ruang dialog dengan pemerintah untuk mencari solusi terbaik bagi keberlangsungan pasar.
“Ada saja orang lewat di luar sana tidak masuk ke dalam pasar. Kami siap saja untuk diajak rapat bagaimana baiknya pasar,” tegasnya.
Keberadaan pasar tradisional dinilai tidak hanya sebagai pusat transaksi, tetapi juga ruang ekonomi rakyat dan interaksi sosial. Oleh karena itu, perbaikan fasilitas dan dukungan kebijakan menjadi faktor penting untuk mengembalikan fungsi pasar sebagai penggerak ekonomi lokal.
“Diperbaikilah tapi cukup untuk kami-kami yang ada ini saja,” ujar Tani penuh harap. []
Penulis: Saiful Rahman | Penyunting: Redaksi01
