UMKM Didorong Masuk Program Nasional Lewat Inabuyer 2026

JAKARTA – Pemerintah mengandalkan belanja negara dan kemitraan lintas sektor untuk memperluas akses pasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui gelaran Inabuyer Business to Business to Government (B2B2G) Expo 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 5–7 Mei di Gedung SMESCO, Jakarta. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat posisi UMKM dalam rantai pasok nasional sekaligus mendorong penggunaan produk dalam negeri secara berkelanjutan.

Kegiatan yang memasuki tahun keempat ini dirancang sebagai ruang temu antara UMKM dengan pembeli dari sektor pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD), serta swasta. Berbeda dari tahun sebelumnya, penyelenggaraan kali ini difokuskan untuk mengintegrasikan UMKM ke dalam program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), perumahan rakyat, dan sekolah rakyat.

Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Wamen UMKM) Helvi Moraza menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha lokal, termasuk melalui Kampanye Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), optimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta pengendalian produk impor.

“Kegiatan ini menjadi momentum untuk membangkitkan produk lokal sekaligus mendorong kemitraan UMKM lintas sektor, dengan dukungan pemerintah, usaha besar, dan BUMN/BUMD. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat UMKM, rantai pasok, serta meningkatkan penggunaan produk dalam negeri sehingga mendorong pemerataan ekonomi dan daya saing nasional,” ujarnya di Jakarta, sebagaimana dilansir Kontan, Kamis, (16/04/2026).

Dari sisi pengadaan, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) menilai belanja pemerintah menjadi instrumen strategis dalam membuka akses pasar bagi UMKM. Deputi Bidang Pengembangan Strategi dan Kebijakan LKPP Muhammad Aris Supriyanto menyebut potensi sinergi antara kebutuhan pengadaan pemerintah dan kapasitas UMKM semakin besar.

“Kekuatan utama perekonomian Indonesia bertumpu pada jutaan pelaku UMKM dan koperasi di berbagai daerah. Dalam hal ini, belanja pemerintah memiliki peran strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka akses pasar bagi pelaku usaha lokal. Melalui Inabuyer B2B2G Expo 2026, kami melihat peluang besar untuk mempertemukan kebutuhan pengadaan dengan kapasitas UMKM yang terus berkembang, sekaligus memperkuat ekosistem yang lebih inklusif, transparan, dan berpihak pada produk dalam negeri,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Budihardjo Iduansjah menilai keterlibatan sektor ritel modern mampu memperkuat permintaan domestik yang terhubung dengan belanja pemerintah.

“Sektor konsumsi, termasuk retail modern, adalah motor utama pergerakan ekonomi. Dengan adanya Inabuyer B2B2G Expo 2026, kita memperkuat konektivitas antara belanja pemerintah melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, kementerian/lembaga, dan BUMN/ BUMD, dengan kebutuhan sektor swasta, khususnya sektor retail. Ini menciptakan demand yang nyata dan terintegrasi, sehingga mendorong perputaran ekonomi yang lebih besar di dalam negeri,” ujarnya.

Ia menambahkan, melalui gerakan nasional seperti Bangga Buatan Indonesia dan BINA (Belanja di Indonesia Aja), kebutuhan pasar domestik diharapkan dapat dipenuhi oleh produk lokal, termasuk dari UMKM.

“Melalui gerakan nasional seperti BINA (Belanja di Indonesia Aja), kami mendorong agar seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi oleh produk dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menilai Inabuyer tidak sekadar mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi juga membangun ekosistem perdagangan domestik yang kuat dan berkelanjutan.

“Artinya, kita tidak hanya bicara mempertemukan buyer dan seller, tetapi membangun ekosistem perdagangan dalam negeri yang kuat. Ketika demand sudah ada, baik dari pemerintah, retail, maupun pasar wisata maka tugas kita adalah memastikan supply dari dalam negeri siap dan mampu mengisi kebutuhan tersebut,” tambahnya.

Selain memperluas pasar, Inabuyer 2026 juga membawa misi pemulihan ekonomi melalui program Showcase UMKM Bangkit yang melibatkan pelaku usaha terdampak bencana di sejumlah wilayah Sumatera. Pada penyelenggaraan sebelumnya, ajang ini mencatat potensi kerja sama sebesar Rp1,58 triliun dengan realisasi transaksi melampaui Rp2,5 triliun, yang menjadi pijakan untuk meningkatkan dampak ekonomi pada tahun ini. []

Penulis: Leni Wandira | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *