Krisis Hunian Memuncak, Massa London Desak Pemerintah Bertindak

LONDON – Tekanan terhadap pemerintah Inggris terkait krisis hunian semakin menguat setelah ribuan warga menggelar aksi Demonstrasi Perumahan Nasional di pusat kota pada Sabtu (18/04/2026), menuntut kebijakan tegas untuk menekan lonjakan harga sewa dan memperluas akses perumahan terjangkau.

Aksi yang melibatkan serikat pekerja, asosiasi penyewa, mahasiswa, hingga berbagai organisasi masyarakat itu dipusatkan di Soho Square sekitar pukul 13.00 waktu setempat, sebelum dilanjutkan dengan long march menuju kawasan pusat kota.

Para demonstran menilai pemerintah belum cukup responsif dalam mengatasi kenaikan biaya sewa yang terus membebani masyarakat, khususnya sejak pandemi. Mereka mendesak penerapan pembatasan harga sewa serta intervensi langsung negara di sektor perumahan guna melindungi penyewa dari tekanan pasar.

Dalam aksi tersebut, massa membawa berbagai spanduk bertuliskan tuntutan, termasuk “Rumah untuk rakyat, bukan keuntungan”. Penyelenggara menyebut rata-rata harga sewa di Inggris meningkat hampir sepertiga dalam beberapa tahun terakhir, sehingga mempersempit akses masyarakat terhadap hunian layak.

“Sistem perumahan lain dimungkinkan. Kita bisa mendapatkan rumah yang terjangkau dan aman,” ujar penyelenggara, sebagaimana dilansir Ria Novosti, Sabtu, (18/04/2026).

Selain persoalan harga, demonstran juga menyoroti kualitas hunian yang dinilai masih rendah di sejumlah kota besar, termasuk London. Banyak keluarga disebut masih tinggal di rumah sewa yang tidak memenuhi standar kelayakan, sementara angka tunawisma di negara tersebut dinilai tinggi dibanding negara maju lainnya.

Aksi protes turut diwarnai simbol kritik terhadap pemerintah, termasuk membawa boneka Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, serta tudingan adanya kedekatan antara pemerintah dan pemilik properti dalam menentukan kebijakan sektor perumahan.

Untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan, aparat kepolisian setempat mengerahkan puluhan personel selama aksi berlangsung. Hingga kegiatan berakhir, tidak dilaporkan adanya insiden berarti.

Gelombang protes ini diperkirakan menjadi sinyal meningkatnya tekanan publik terhadap pemerintah Inggris untuk segera merumuskan kebijakan perumahan yang lebih adil dan berkelanjutan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan pasar dan kebutuhan dasar masyarakat. []

Penulis: Anita | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *