BBM Naik Lagi, Ini Daftar Harga Terbaru April 2026
JAKARTA – Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada April 2026 menunjukkan tren kenaikan paling tajam pada jenis solar, sementara harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat. Kenaikan ini dipicu fluktuasi harga minyak dunia yang berdampak langsung pada kebijakan energi domestik.
PT Pertamina (Persero) mulai melakukan penyesuaian harga sejak 18 April 2026, dengan fokus pada produk non-subsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Sementara itu, harga Pertamax dan Pertamax Green relatif tidak mengalami perubahan signifikan hingga 23 April 2026.
Di wilayah Jawa, harga Dexlite tercatat sebesar Rp23.600 per liter dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter. Keduanya menjadi jenis BBM dengan kenaikan paling mencolok, terutama pada kategori diesel. Sementara Pertamax Turbo berada di Rp19.400 per liter, Pertamax Rp12.300 per liter, dan Pertamax Green 95 sebesar Rp12.900 per liter. Adapun BBM bersubsidi, yakni Pertalite tetap di Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Kenaikan harga pada sektor diesel ini sejalan dengan tren global, di mana harga energi mengalami tekanan akibat dinamika pasar internasional. Selain itu, variasi harga di berbagai daerah juga dipengaruhi oleh faktor pajak daerah serta biaya distribusi yang berbeda sesuai kondisi geografis masing-masing wilayah.
Di kawasan luar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan, harga Pertamina Dex bahkan mencapai kisaran Rp24.450 hingga Rp24.950 per liter, sementara Dexlite berada di rentang Rp24.150 hingga Rp24.650 per liter. Perbedaan harga ini mencerminkan tantangan logistik distribusi energi di wilayah kepulauan.
Selain Pertamina, penyesuaian harga juga dilakukan oleh SPBU swasta. Jaringan BP-AKR turut menaikkan harga BBM pada April 2026, dengan BP Ultimate Diesel tercatat mencapai Rp25.560 per liter. Sementara itu, BP 92 berada di Rp12.390 per liter dan BP Ultimate Rp12.930 per liter.
Kebijakan mempertahankan harga BBM bersubsidi di tengah kenaikan non-subsidi menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. Namun, kenaikan pada BBM non-subsidi tetap berpotensi memberikan efek berantai terhadap biaya logistik dan harga barang di pasar.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan badan usaha energi diharapkan terus memantau dinamika harga global serta menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan perlindungan daya beli masyarakat. []
Penulis: Zihan Berliana Ram Ghani | Penyunting: Redaksi01
