Bulog Terapkan Teknologi Canggih, Beras Lebih Higienis dan Tahan Lama

JAKARTA – Perusahaan Umum (Perum) Bulog mulai mengadopsi teknologi penyimpanan beras tanpa bahan kimia hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna meningkatkan kualitas cadangan pangan nasional sekaligus memperpanjang masa simpan hingga dua tahun.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam memperkuat sistem logistik pangan berbasis inovasi, seiring rencana pembangunan gudang baru di berbagai daerah serta modernisasi fasilitas penyimpanan yang telah ada.

Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan teknologi tersebut memungkinkan penyimpanan beras lebih aman tanpa proses fumigasi. “Teknologi itu bisa mampu memelihara beras di gudang hampir sampai dua tahun tanpa harus adanya fumigasi dan lain sebagainya,” kata Ahmad usai rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan, sebagaimana dilansir Antara, Rabu, (23/04/2026).

Menurut Ahmad, teknologi ini dikembangkan melalui kolaborasi Bulog dan BRIN dalam beberapa bulan terakhir sebagai upaya menghadirkan sistem penyimpanan yang lebih higienis dan ramah lingkungan. Ia menilai inovasi tersebut akan meningkatkan kualitas beras yang disalurkan kepada masyarakat.

“Sehingga beras itu akan semakin sehat, semakin higienis, dan lebih layak untuk dikonsumsi karena tidak menggunakan campuran kimia,” ujarnya.

Penerapan teknologi akan dilakukan secara bertahap pada gudang-gudang baru yang tengah disiapkan pemerintah, sekaligus menjadi standar baru dalam pengelolaan cadangan pangan nasional.

“Nanti kita bertahap, harapannya nanti bisa 100 (titik) semuanya,” ucapnya.

Selain pembangunan gudang baru, Bulog juga berencana melakukan pembaruan fasilitas lama dengan teknologi serupa agar kualitas penyimpanan tetap terjaga secara merata di seluruh wilayah.

Ahmad menegaskan inovasi ini merupakan hasil karya dalam negeri yang perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung ketahanan pangan jangka panjang.

“Potensi ini hasil kreasi anak bangsa Indonesia sendiri, ini harus kita wujudkan,” tutur Ahmad.

Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan pembangunan 100 titik infrastruktur pascapanen yang mencakup gudang penyimpanan dan fasilitas pendukung lainnya. Program ini dirancang berbasis karakteristik wilayah guna menyesuaikan kebutuhan distribusi dan produksi pangan di masing-masing daerah.

Penguatan infrastruktur pascapanen dan penerapan teknologi modern diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan hasil pertanian, menjaga kualitas komoditas, serta memastikan stabilitas pasokan pangan nasional di tengah dinamika kebutuhan masyarakat. []

Penulis: Aria Ananda | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *