Pelatihan Evakuasi Digelar, Penghuni Apartemen Didorong Lebih Siaga

SURABAYA – Upaya pencegahan risiko kebakaran di hunian vertikal diperkuat melalui pelatihan mitigasi bencana yang melibatkan penghuni Balehinggil Apartemen, menyusul adanya insiden kecil yang nyaris memicu kebakaran akibat kelalaian penggunaan kompor.

Kegiatan yang digelar pada Senin (27/04/2026) tersebut diinisiasi manajemen Balehinggil Apartemen bersama PT Tata Kelola Sarana sebagai langkah antisipatif untuk meningkatkan kesiapsiagaan penghuni dalam menghadapi kondisi darurat, khususnya kebakaran.

Direktur PT Tata Kelola Sarana Emeraldo Muhammad Elsyaputera mengungkapkan, pelatihan ini dilatarbelakangi kejadian di salah satu unit apartemen ketika penghuni meninggalkan kompor dalam kondisi menyala hingga memicu percikan api.

“Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa risiko bisa muncul dari hal sederhana dalam aktivitas sehari-hari. Karena itu, pelatihan ini penting untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh penghuni,” ujarnya, sebagaimana dilansir Duta, Selasa (28/04/2026).

Pelatihan dirancang secara menyeluruh dengan materi mulai dari identifikasi risiko di hunian vertikal, langkah pencegahan kebakaran, simulasi evakuasi darurat, hingga praktik penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Selain itu, penghuni juga dibekali pemahaman terkait prosedur pelaporan dan koordinasi saat terjadi keadaan darurat.

Manajemen menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari layanan prima (excellent service) sekaligus edukasi guna membangun kesadaran kolektif bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab bersama antara pengelola dan penghuni.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin membangun budaya tanggap bencana di lingkungan apartemen,” kata Emeraldo.

Dalam kesempatan yang sama, Ridlo Noor Wahab menekankan pentingnya respons cepat pada fase awal kebakaran. Ia mengingatkan bahwa api yang tidak ditangani dalam tiga menit pertama berpotensi berkembang menjadi kebakaran besar.

“Karena itu, masyarakat adalah garda terdepan. Upaya preventif harus lebih kuat dibandingkan tindakan represif,” tegasnya.

Ridlo juga menyebutkan bahwa waktu respons Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya rata-rata sekitar 6,5 menit sejak laporan diterima hingga petugas tiba di lokasi, sehingga peran penghuni dalam penanganan awal menjadi sangat krusial.

Sementara itu, salah satu penghuni Shelly Tiara Alinda Maesa mengaku pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi situasi darurat.

“Pastinya menegangkan, tapi sangat membantu. Kita jadi tahu cara menyelamatkan diri dan pentingnya mengutamakan keselamatan,” ujarnya.

Ke depan, manajemen memastikan pelatihan serupa akan dilakukan secara berkala guna memperkuat budaya keselamatan (safety awareness) di lingkungan hunian, sehingga potensi risiko dapat diminimalisir dan kenyamanan penghuni tetap terjaga. []

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *