Pasar Kliwon Kudus Sepi, Pedagang Banyak Tutup Usai Tren Belanja Online
KUDUS – Penurunan jumlah pedagang di Pasar Kliwon menjadi sinyal melemahnya aktivitas perdagangan tradisional di Kabupaten Kudus (Kudus) pascapandemi Covid-19. Perubahan pola belanja masyarakat ke sistem online turut memicu banyak kios dan los di pasar terbesar di Kudus itu berhenti beroperasi.
Data Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus mencatat, hingga akhir 2025 hanya 527 kios yang masih aktif dari total 541 kios yang tersedia. Sementara itu, dari 2.324 los, hanya 1.826 los yang masih digunakan pedagang. Adapun ruko yang tetap beroperasi sebanyak 32 unit dari total 35 unit.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Pasar pada Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Agus Sumarsono, mengatakan penurunan aktivitas perdagangan mulai terasa sejak pandemi Covid-19 dan terus berlanjut hingga kini akibat meningkatnya kebiasaan masyarakat berbelanja secara online.
“Sejak pandemi Covid-19, pengunjung pasar mulai menurun. Setelah itu masyarakat semakin terbiasa belanja online, sehingga jumlah pedagang juga ikut berkurang,” ujarnya, sebagaimana diwartakan Isknews, Selasa (05/05/2026).
Menurut Agus, kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil turut memengaruhi keberlangsungan usaha para pedagang di pasar tradisional. Penurunan daya beli membuat omzet pedagang terus merosot sehingga sebagian memilih menghentikan usahanya sementara waktu.
“Daya beli masyarakat menurun, pendapatan pedagang ikut turun. Banyak yang akhirnya menutup kios maupun los karena hasil penjualan tidak cukup untuk menutup modal dan biaya operasional,” jelasnya.
Ia menambahkan, pedagang yang masih bertahan mayoritas berasal dari sektor kebutuhan pokok, terutama makanan dan minuman. Sebaliknya, pedagang nonpangan seperti konveksi mulai banyak meninggalkan pasar karena penjualan yang terus menurun.
“Kalau kebutuhan pangan masih ada pembeli. Tapi untuk konveksi dan barang sekunder lainnya banyak yang tidak kuat karena penjualannya terus turun,” ungkapnya.
Penurunan jumlah pedagang tersebut dikhawatirkan berdampak pada geliat ekonomi pasar tradisional di Kudus apabila tidak diimbangi strategi adaptasi perdagangan dan peningkatan minat masyarakat untuk kembali berbelanja langsung di pasar rakyat. []
Penulis: Aris Sofiyanto | Penyunting: Redaksi01
