Perumahan Mandiri Energi Jadi Fokus Baru Pemprov Jateng

SEMARANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) mulai mendorong konsep perumahan mandiri energi sebagai solusi penghematan energi sekaligus pengelolaan lingkungan berkelanjutan di kawasan permukiman baru.

Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Taj Yasin Maimoen meminta para pengembang yang tergabung dalam Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jateng mengintegrasikan pengolahan limbah rumah tangga menjadi energi alternatif berupa biogas pada pembangunan perumahan di masa mendatang.

“Pengembangan perumahan atau kawasan bisa kita komunalkan septic tank-nya sehingga bisa kita olah menjadi sebuah energi gas,” kata Taj Yasin saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) 2026 Himperra Jateng di Semarang, sebagaimana diberitakan Antara, Kamis (08/05/2026).

Pria yang akrab disapa Gus Yasin itu menilai kawasan hunian baru tidak seharusnya lagi hanya mengandalkan gas elpiji konvensional. Menurut dia, sistem pengolahan limbah terpadu dapat menjadi sumber energi alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Ia mencontohkan sejumlah daerah di Jateng yang telah berhasil memanfaatkan limbah industri rumah tangga dan peternakan menjadi energi biogas untuk kebutuhan warga.

“Di daerah tersebut, limbah industri tahu dimanfaatkan untuk energi 100 rumah tanpa mereka harus membeli gas,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, warga di Kabupaten Boyolali telah mengolah limbah kotoran sapi menjadi biogas yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak.

Menurut Taj Yasin, konsep perumahan mandiri energi dapat menjadi nilai tambah bagi sektor properti sekaligus membantu pemerintah mengurangi ketergantungan impor gas.

“Kalau ini diintegrasikan dengan pengembangan perumahan nanti promosinya beli perumahan tidak perlu beli gas elpiji. Nah ini akan menarik. Dan kita juga akan hemat energi karena gas ini negara kita masih impor,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub Jateng juga mengingatkan pengembang agar memperhatikan aspek tata ruang dan mitigasi bencana pada pembangunan kawasan hunian tahun 2026. Ia menyoroti ancaman rob dan tanah bergerak yang masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Jateng.

“Tahun 2026 ini kita menghadapi banyak tantangan bencana, mulai dari rob hingga tanah gerak. Saya minta pengembang jangan hanya beton semua,” katanya.

Ia meminta setiap pembangunan perumahan menyediakan sumur resapan dan ruang terbuka untuk menjaga ketersediaan air tanah sekaligus mengurangi risiko banjir.

Site plan harus ada sumur resapan, syukur-syukur satu rumah satu sumur resapan agar kita tidak krisis air tanah dan aman dari banjir,” katanya.

Dorongan pembangunan perumahan berbasis energi alternatif tersebut diharapkan dapat menciptakan kawasan hunian yang lebih mandiri, hemat energi, dan tangguh terhadap dampak perubahan lingkungan di Jateng. []

Penulis: Zuhdiar Laeis | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *