Tren Bank Digital Ubah Cara Masyarakat Menabung dan Atur Keuangan
JAKARTA – Perkembangan layanan bank digital mulai mengubah cara masyarakat Indonesia mengatur keuangan. Jika sebelumnya nasabah harus memiliki banyak rekening untuk memisahkan tabungan, kebutuhan rumah tangga, hingga investasi, kini pengelolaan dana cukup dilakukan melalui satu aplikasi dengan fitur kantong digital.
Perubahan perilaku tersebut terlihat seiring meningkatnya penggunaan layanan perbankan digital dalam beberapa tahun terakhir. Direktur Group Riset Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Seto Wardono mengatakan pertumbuhan simpanan di bank digital terus mencatat kenaikan rata-rata dua digit sepanjang 2022 hingga 2026.
Selain itu, pangsa simpanan bank digital juga meningkat dari 0,8 persen pada Maret 2022 menjadi 1,8 persen pada Maret 2026. Jumlah rekening bank digital bahkan melonjak dari sekitar 4 persen menjadi 22 persen dari total rekening bank umum dalam periode yang sama.
“Ini menunjukkan bahwa preferensi menabung masyarakat di bank digital meningkat, namun tidak signifikan,” kata Seto kepada Kompas.com, Rabu (06/05/2026).
Menurutnya, peningkatan tersebut didorong kemudahan pembukaan rekening secara digital serta integrasi layanan perbankan dengan berbagai ekosistem digital seperti marketplace, transportasi daring, dan dompet elektronik (e-wallet).
“Beberapa bank digital juga berada dalam ekosistem digital misalnya marketplace, transportasi, e-wallet, sehingga meningkatkan engagement nasabah penyimpan dengan bank,” jelasnya.
Fenomena itu turut dirasakan masyarakat pengguna layanan bank digital. Dian, seorang ibu rumah tangga sekaligus karyawan swasta, mengaku kini tidak lagi membutuhkan banyak rekening bank setelah menggunakan fitur kantong digital pada aplikasi mobile banking.
“Dulu lumayan banyak rekening, tapi jujur banyak juga yang akhirnya nggak kepakai, jadi cuma numpuk saja,” ujar Dian kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Menurut Dian, fitur kantong digital mempermudah pengaturan pos keuangan tanpa harus membuka rekening baru di bank berbeda.
“Lumayan berkurang. Sekarang cukup satu aplikasi saja, tapi tetap bisa misahin uang sesuai kebutuhan,” ucapnya.
Presiden International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia Aidil Akbar menilai fitur kantong digital membantu masyarakat menyusun anggaran keuangan (budgeting) secara lebih praktis.
“Memang kantong digital itu bisa membantu orang membuat budgeting. Saya tahu ada beberapa orang yang saya kenal yang menggunakan atau memanfaatkan fitur tersebut, terutama untuk mereka yang memang kesulitan dalam mengelola keuangan atau males membuat budgeting pakai kertas. Jadi kantong-kantong itu bisa dipakai lah, baik itu mau dipakai buat ditabung, mau dipakai buat investasi, itu kepakai sama mereka,” jelas Aidil kepada Kompas.com, Senin (04/05/2026), sebagaimana dilansir Kompas, Minggu (11/05/2026).
Meski demikian, Aidil menilai kebiasaan memiliki lebih dari satu rekening belum sepenuhnya ditinggalkan masyarakat karena tidak semua bank digital menyediakan layanan keuangan lengkap dalam satu aplikasi.
“Tapi kalau memang ternyata layanannya ada atau produknya ada, itu sangat-sangat membantu banget. Jadi nggak perlu capek-capek buka akun di tempat lain,” ucapnya.
Sementara itu, Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago Michael Hartawan menyebut fitur Kantong Jago dikembangkan dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang memisahkan uang berdasarkan kebutuhan tertentu.
“Kami percaya bahwa setiap uang punya tempat dan tujuan, maka kami mengembangkan fitur Kantong (pocket) di Aplikasi Jago, yang dapat dipersonalisasi hingga 60 Kantong,” ucap Michael kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Michael mengatakan nasabah kini semakin mengutamakan kemudahan, efisiensi, dan pengalaman keuangan yang seamless. Hingga Maret 2026, Bank Jago mencatat terdapat sekitar 43,2 juta kantong digital yang digunakan oleh 15,2 juta pengguna aplikasi.
“Nasabah tampaknya semakin terbiasa mengatur keuangan mereka secara aktif, sehingga fitur yang memberikan kontrol, visibilitas, dan personalisasi menjadi semakin penting,” ujarnya.
Perubahan tersebut menunjukkan fungsi rekening bank mulai bergeser dari sekadar tempat menyimpan uang menjadi pusat pengelolaan keuangan dalam satu aplikasi, mulai dari budgeting, pembayaran, investasi, hingga akses pinjaman. []
Penulis: Isna Rifka Sri Rahayu | Penyunting: Redaksi01
