UMKM Kenjeran Surabaya Tembus Pasar Qatar dan Maldives

SURABAYA – Produk camilan olahan laut milik pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Kenjeran, Surabaya, mulai memperluas pasar ekspor ke sejumlah negara di Asia dan Timur Tengah. UMKM bernama Canoi itu kini menjajaki pasar Qatar dan Brunei Darussalam setelah sebelumnya berhasil memasarkan produknya ke Singapura, Malaysia, dan Maldives.

Pemilik Canoi, Rachmawati Basuki, mengatakan perluasan pasar internasional tersebut tidak terlepas dari konsistensi mengikuti pembinaan UMKM serta kegiatan business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari luar negeri.

“Dulu kami mulai ekspor ke Singapura untuk produk crispy, sementara produk udang masuk Malaysia. Setelah ikut business matching mulai ada hasil,” kata Rachmawati kepada Tribun Jatim sebagaimana diberitakan Tribun Jatim, Minggu (11/05/2026).

Canoi memproduksi berbagai camilan berbahan hasil laut khas Kenjeran, seperti krispy teri, udang rebon krispy, kerupuk kepiting, kerupuk salmon, kerupuk kerang bambu, hingga kerupuk ikan cucut.

Menurut Rachmawati, pasar ekspor menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus memperluas pemberdayaan masyarakat sekitar yang terlibat dalam proses produksi.

Saat ini, buyer dari Maldives disebut mulai menambah permintaan produk setelah sebelumnya hanya memesan dua varian makanan olahan. Selain itu, calon pembeli dari Singapura kembali melakukan penjajakan kerja sama melalui pengiriman sampel produk.

Peluang pasar juga datang dari Brunei Darussalam yang disebut tertarik terhadap produk makanan instan milik Canoi. Namun, proses ekspor masih terkendala penyesuaian sertifikasi halal sesuai regulasi negara tujuan.

Sementara itu, penjajakan pasar Qatar masih berada dalam tahap negosiasi sambil menunggu hasil uji kandungan nutrisi produk.

Di tengah ekspansi pasar internasional, penjualan Canoi saat ini masih didominasi pasar domestik dengan omzet kotor berkisar Rp25 juta hingga Rp30 juta per bulan.

Dalam sebulan, UMKM tersebut mampu memproduksi sekitar 4.500 pieces dari total 18 varian produk. Namun, hanya tujuh hingga delapan produk yang menjadi andalan penjualan.

Selain fokus pada ekspor, Canoi juga memperluas distribusi produk ke jaringan ritel modern. Sejumlah produknya telah masuk maupun masih dalam proses kurasi di beberapa pusat perbelanjaan seperti Enako, Transmart, Samudra, hingga Indomaret.

Menurut Rachmawati, proses masuk ke ritel modern tidak mudah karena setiap produk harus melalui tahapan seleksi yang ketat.

“Produk yang masuk ritel harus melalui seleksi. Pesertanya bisa puluhan sampai ratusan produk,” ujarnya. []

Penulis: Nur Ika Anisa | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *