IHSG Menguat di Awal Pekan, Investor Fokus Data Ekonomi Global

JAKARTA – Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka di zona hijau pada Senin (06/07/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 14,24 poin atau 0,24 persen ke level 5.890,02 pada sekitar pukul 09.00 WIB, didorong optimisme pelaku pasar yang mencermati sejumlah agenda ekonomi global dan domestik.

Data BEI melalui IDX Mobile menunjukkan nilai transaksi pada awal perdagangan mencapai Rp254,5 miliar dengan volume 433,5 juta saham yang diperdagangkan dalam 49,6 ribu kali transaksi. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI tercatat sekitar Rp10.320 triliun.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi yang diperkirakan memengaruhi arah pergerakan pasar sepanjang pekan. Dari Amerika Serikat (AS), perhatian tertuju pada indikator sektor jasa dan risalah rapat Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed). Sementara dari dalam negeri, investor mencermati data cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, serta Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI).

Sentimen lain datang dari keputusan kelompok negara produsen minyak Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) yang kembali menaikkan target produksi sebesar 188.000 barel per hari (barrels per day/bph) mulai Agustus 2026. Keputusan yang diumumkan pada Minggu (5/7/2026) tersebut menambah pasokan minyak dunia seiring melemahnya harga minyak dan pulihnya aktivitas ekspor melalui Selat Hormuz.

Kenaikan target produksi itu melanjutkan tambahan kuota dengan besaran yang sama pada Juni dan Juli. Secara kumulatif, tujuh anggota inti OPEC+ telah meningkatkan target produksi hampir 800.000 bph sejak April.

Meski demikian, realisasi produksi belum sepenuhnya meningkat akibat konflik AS-Israel-Iran yang sempat mengganggu distribusi kapal tanker di Selat Hormuz. Produksi OPEC+ pada Mei tercatat sebesar 33,13 juta bph, turun dibandingkan Februari yang mencapai 42,77 juta bph, sebelum mulai menunjukkan pemulihan pada Juni.

Di sisi lain, harga minyak dunia telah kembali bergerak di kisaran 72 dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat melampaui 120 dolar AS per barel. Penurunan harga dipengaruhi melemahnya impor minyak China, meningkatnya pasokan dari produsen di luar Timur Tengah, serta pelepasan cadangan minyak strategis global.

OPEC+ juga dihadapkan pada dinamika baru setelah Uni Emirat Arab (UEA) keluar dari aliansi dan Irak mengusulkan peningkatan kuota produksi. Berdasarkan perhitungan Reuters, tujuh anggota inti OPEC+ masih memiliki sekitar 379.000 bph pemangkasan produksi yang belum dikembalikan ke pasar. Jika produksi kembali dinaikkan pada pertemuan 2 Agustus mendatang, maka pengurangan produksi yang disepakati pada 2023 diperkirakan akan berakhir sepenuhnya, sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Senin (06/07/2026). []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *