Harga Minyak Dunia Turun, Konflik AS-Iran Masih Bayangi Pasar Energi
NEW YORK – Harga minyak dunia terkoreksi hampir 1 persen pada penutupan perdagangan Kamis (16/07/2026) waktu setempat. Meski demikian, pasar energi global masih dibayangi tingginya premi risiko akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak.
Berdasarkan data Reuters, minyak mentah Brent ditutup turun 72 sen atau 0,9 persen menjadi 84,23 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 65 sen atau 0,8 persen ke level 78,95 dolar AS per barel. Kendati berakhir di zona negatif, kedua kontrak sempat menguat lebih dari 1 persen pada perdagangan intraday sebelum akhirnya terkoreksi akibat aksi ambil untung investor.
Koreksi tersebut terjadi setelah reli harga dalam beberapa hari terakhir yang membawa Brent dan WTI ke level tertinggi dalam sekitar satu bulan. Kondisi itu mendorong sebagian pelaku pasar merealisasikan keuntungan.
Analis riset minyak The Officials Ed Hayden-Briffett mengatakan momentum kenaikan harga mulai mereda setelah investor melakukan penyesuaian posisi di pasar.
“Posisi investor sebelumnya sangat besar di sisi jual (short). Ketika situasi di Timur Tengah memburuk, banyak investor menutup posisi tersebut sehingga reli harga mulai kehilangan tenaga,” ujarnya, sebagaimana dilansir Waspada mengutip Reuters, Kamis (16/07/2026).
Meski harga melemah, perhatian pelaku pasar masih tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Runtuhnya gencatan senjata yang sempat berlangsung sejak Juni meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dunia sebelum konflik terjadi.
Berdasarkan informasi dari tiga sumber Reuters, Iran disebut telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur ekspor minyak melalui Laut Merah apabila AS melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali menyampaikan ancaman serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis di Iran.
Direktur Strategi Pasar Energi StoneX Alex Hodes menilai situasi tersebut meningkatkan risiko terhadap dua jalur distribusi minyak terpenting di kawasan Timur Tengah.
“Dengan Selat Hormuz yang sudah ditutup, ancaman terhadap Laut Merah meningkatkan risiko gangguan terhadap dua jalur ekspor minyak utama sekaligus,” katanya.
Data Kpler menunjukkan sekitar 7,4 juta barel minyak per hari melintasi jalur Bab el-Mandeb sepanjang Juni 2026 atau setara sekitar 7 persen produksi minyak global. Volume tersebut meningkat dibandingkan sekitar 4,2 juta barel per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Strategis Pasar Keuangan Exness Wael Makarem menilai potensi gangguan bersamaan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dapat memperbesar tekanan terhadap rantai pasok energi dunia.
“Situasi itu akan meningkatkan tekanan pada rantai pasok, membatasi ketersediaan kapal tanker, dan mendorong premi asuransi pengiriman semakin tinggi,” ujarnya.
Di sisi lain, kenaikan ekspor minyak mentah Irak menjadi faktor yang menahan laju kenaikan harga. Berdasarkan data Kpler dan sumber industri, ekspor minyak Irak pada paruh pertama Juli meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 1,2 juta barel per hari setelah sebelumnya mengalami pembatasan selama beberapa bulan.
Pasar juga mencermati perkembangan diplomatik setelah Iran membebaskan seorang warga negara AS. Kendati langkah tersebut dinilai membuka peluang meredakan ketegangan, kedua negara masih saling melancarkan serangan pada Kamis sehingga risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang menopang pergerakan harga minyak dunia. []
Redaksi01
