Bursa Asia Tertekan, Nikkei dan Taiex Kompak Ambles Hingga 3% pada Perdagangan Pagi
JAKARTA – Tekanan pada saham-saham sektor teknologi menyeret mayoritas bursa saham Asia ke zona merah pada perdagangan Jumat (17/07/2026) pagi. Pelemahan dipicu aksi jual terhadap saham perusahaan semikonduktor setelah penurunan saham teknologi di Amerika Serikat (AS), sehingga memicu kekhawatiran investor terhadap prospek investasi di sektor artificial intelligence (AI).
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 08.20 WIB, indeks Nikkei 225 menjadi salah satu yang mencatat koreksi terdalam dengan turun 3,19 persen ke level 64.706,74. Indeks Taiex juga merosot 3,18 persen ke posisi 44.173,09, sedangkan indeks ASX 200 melemah 0,68 persen menjadi 8.780,6. Sementara itu, indeks Hang Seng dibuka turun tipis 0,06 persen ke level 25.022,54, FTSE Straits Times terkoreksi 0,71 persen menjadi 5.500, dan FTSE Malay KLCI melemah 0,09 persen ke posisi 1.720,57. Adapun bursa saham Korea Selatan tidak beroperasi karena hari libur nasional.
Sentimen negatif di kawasan Asia muncul setelah saham-saham semikonduktor di Wall Street kembali mengalami tekanan. Indeks Nasdaq Composite ditutup turun 1,47 persen pada perdagangan sebelumnya, memperpanjang aksi jual terhadap saham perusahaan teknologi yang selama beberapa bulan terakhir mencatat kenaikan signifikan, sebagaimana dilansir Kontan, Jumat (17/07/2026).
Dampak tekanan tersebut terlihat pada sejumlah emiten teknologi Jepang. Saham SoftBank tercatat turun 8,8 persen, sementara Tokyo Electron kehilangan 9 persen dan Advantest melemah 9,4 persen mengikuti tren pelemahan saham semikonduktor global.
Di sisi lain, saham produsen cip memori Kioxia merosot lebih dari 14 persen setelah juri federal di Texas, Amerika Serikat, memutuskan perusahaan tersebut harus membayar ganti rugi sebesar 229 juta dolar AS karena dinyatakan melanggar hak paten milik Viasat yang berkaitan dengan teknologi memori komputer.
Pelemahan yang terjadi di pasar Asia mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap valuasi saham-saham teknologi, khususnya perusahaan yang berkaitan dengan pengembangan AI. Pelaku pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan sektor tersebut di tengah besarnya belanja infrastruktur AI yang terus meningkat, sehingga memicu aksi ambil untung pada sejumlah saham teknologi global. []
Redaksi01
