Harga Minyak Dunia Tembus Level Tertinggi, Konflik AS-Iran Guncang Pasar Energi

NEW YORK – Ancaman terhadap jalur distribusi energi global mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 4 persen pada penutupan perdagangan Jumat (17/07/2026). Pasar merespons meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dinilai berpotensi mengganggu pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.

Berdasarkan data perdagangan, harga minyak mentah Brent ditutup menguat sebesar US$3,87 atau 4,59 persen menjadi US$88,10 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$3,54 atau 4,48 persen ke level US$82,49 per barel. Kedua kontrak tersebut mencatat harga penutupan tertinggi sejak pertengahan Juni.

Penguatan harga juga tercermin sepanjang pekan ini. Brent dan WTI masing-masing membukukan kenaikan sekitar 16 persen. Brent mencatat penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut, sedangkan WTI memperpanjang reli menjadi dua pekan.

Lonjakan harga terjadi setelah konflik antara AS dan Iran kembali meningkat. Militer AS dilaporkan menyerang sejumlah jembatan dan bandara di Iran. Sebagai balasan, Teheran menyerang fasilitas pembangkit listrik dan instalasi desalinasi di Kuwait serta mengklaim melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas milik AS di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan langsung pertamanya ke Suriah setelah enam malam berturut-turut serangan AS terhadap fasilitas militer Iran.

Presiden Lipow Oil Associates Andrew Lipow menilai pasar kini lebih sensitif terhadap ancaman yang menyasar infrastruktur penting dan jalur distribusi energi.

“Jika semakin banyak kapal tanker menjadi sasaran dan mengalami kerusakan, harga minyak akan terus naik karena pemilik kapal enggan memasuki Teluk Persia,” ujar Andrew Lipow, sebagaimana dilansir Kontan, Jumat (17/07/2026).

Kekhawatiran pasar semakin meningkat setelah arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan mengalami tekanan. Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dikirim melalui jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, meningkatnya tekanan terhadap kapal-kapal yang melintas membuat volume pengiriman mulai menurun.

Risiko terhadap pasokan energi juga diperbesar oleh ancaman gangguan pelayaran di Laut Merah. Iran disebut mendorong kelompok Houthi untuk mengganggu jalur pelayaran apabila AS melancarkan serangan terhadap infrastruktur kelistrikan Iran, sehingga berpotensi memperluas hambatan pada rantai pasok energi dunia.

Sebagai langkah mitigasi, Arab Saudi mengalihkan lebih dari 70 persen ekspor minyak mentah hariannya ke Pelabuhan Yanbu melalui jaringan Pipa Timur-Barat. Dalam beberapa pekan terakhir, pengiriman dari pelabuhan tersebut mencapai rata-rata 4 juta barel per hari, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 973 ribu barel per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, ketegangan keamanan di kawasan Teluk juga terus berlangsung. Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan berhasil menggagalkan serangan rudal Iran pada Jumat dini hari. Meski demikian, Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan seorang anak mengalami luka akibat serpihan dari proses pencegatan rudal tersebut.

Pasar energi juga masih dibayangi perkembangan konflik di kawasan Eropa Timur. Militer Ukraina mengaku telah menyerang sebuah kilang minyak Rusia di wilayah Yaroslavl pada Kamis (16/07/2026), sehingga menambah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *