Saham Moderna Meledak 177%, Wall Street Ditutup Menguat

NEW YORK – Penguatan Wall Street pada perdagangan Rabu (19/08/2026) lebih banyak ditopang reli saham sektor kesehatan setelah Moderna mencatat lonjakan harga saham hampir 177%. Kenaikan tersebut terjadi setelah perusahaan mengumumkan hasil positif uji klinis terapi kanker berbasis messenger RNA (mRNA) yang dikembangkan bersama Merck.

Sentimen positif dari sektor kesehatan membantu tiga indeks utama Wall Street mengakhiri perdagangan di zona hijau, meski penguatan pasar saham Amerika Serikat (AS) masih dibayangi kekhawatiran terhadap inflasi dan kemungkinan suku bunga bertahan tinggi.

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 119,65 poin atau 0,22% menjadi 53.463,05. Indeks S&P 500 bertambah 16,22 poin atau 0,21% ke level 7.707,98, sedangkan Nasdaq Composite menguat 41,38 poin atau 0,16% menjadi 26.331,09, sebagaimana diberitakan Reuters, Rabu, (19/08/2026).

Moderna menjadi pusat perhatian investor setelah saham perusahaan tersebut melonjak hampir 177%. Kenaikan itu menjadi rekor bagi Moderna setelah perusahaan mengumumkan terapi kanker mRNA yang dipersonalisasi, hasil pengembangan bersama Merck, terbukti mampu menurunkan risiko kekambuhan dan penyebaran melanoma dalam uji klinis tahap akhir.

Pergerakan Moderna turut memicu aksi beli pada sejumlah perusahaan bioteknologi lainnya. Saham Novavax ditutup melonjak 10,8%, sementara BioNTech yang tercatat di bursa AS melesat 22%.

Dampaknya, indeks sektor kesehatan S&P 500 melompat 3,5%. Kenaikan tersebut menjadi penguatan harian terbesar sektor kesehatan sejak April 2025 sekaligus membawa indeks sektor tersebut ke level tertinggi sepanjang masa.

Sektor kesehatan juga menjadi penyumbang kenaikan terbesar terhadap S&P 500 dibandingkan 11 sektor utama lainnya. Indeks bioteknologi Nasdaq bahkan melonjak 6,4%.

Di luar sektor kesehatan, sektor barang konsumsi diskresioner (consumer discretionary) menjadi sektor dengan kenaikan terbesar berikutnya, yakni 2%.

Namun, tidak seluruh sektor bergerak positif. Indeks sektor industri S&P 500 terkoreksi 0,9%, menjadi penurunan terbesar di antara indeks sektoral utama. Sektor teknologi informasi juga turun 0,7%, terutama akibat tekanan terhadap saham-saham perusahaan cip.

Secara keseluruhan, volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 16,92 miliar saham. Angka tersebut sedikit di bawah rata-rata volume perdagangan 20 hari terakhir yang mencapai 16,96 miliar saham.

Penguatan indeks juga berlangsung ketika investor relatif minim merespons risalah pertemuan Federal Reserve (Fed) AS pada Juli. Dokumen tersebut menunjukkan kekhawatiran sejumlah pembuat kebijakan terhadap inflasi dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga apabila tekanan harga tidak bergerak menuju target 2%.

Kondisi pasar obligasi justru memberikan ruang bagi saham untuk menguat. Setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2007, imbal hasil tersebut turun pada perdagangan Rabu. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun juga bergerak turun.

Penurunan imbal hasil terjadi setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana menggandakan ukuran operasi pembelian kembali (buyback) untuk membantu menjaga likuiditas obligasi dengan tenor lebih panjang.

“Perdagangan aset berisiko (risk-on) berusaha bertahan pada ‘tali penyelamat’ yang diberikan oleh Menteri Keuangan Bessent,” kata Carol Schleif, kepala strategi pasar di BMO Private Wealth, seraya mencatat bahwa aset-aset berisiko lebih tinggi—termasuk saham teknologi ternama—sempat mengalami aksi jual dalam beberapa hari terakhir seiring naiknya imbal hasil obligasi.

Menurut Schleif, dukungan tersebut memberikan kelegaan bagi investor di tengah kekhawatiran mengenai membengkaknya utang pemerintah dan meningkatnya inflasi. Suku bunga yang lebih tinggi dinilai berpotensi memengaruhi investasi perusahaan teknologi, khususnya pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Perusahaan teknologi selama ini memanfaatkan penerbitan surat utang, penerbitan saham, serta kas internal untuk membiayai pembangunan pusat data yang menopang pengembangan AI. Karena itu, kenaikan biaya pendanaan dapat menjadi salah satu risiko yang diperhatikan investor.

Meski demikian, Wall Street sempat kehilangan sebagian momentum penguatannya menjelang penutupan perdagangan. Investor dinilai mulai melakukan aksi ambil untung setelah indeks dan sejumlah saham mencatat kenaikan pada awal sesi.

Jim Baird, Kepala Investasi (Chief Investment Officer) di Plante Moran Financial Advisors, mengatakan bahwa investor kemungkinan melakukan aksi ambil untung setelah lonjakan awal. Ia menambahkan bahwa pengumuman pagi itu tidak berarti isu jangka panjang mengenai suku bunga tinggi sudah hilang dari pembahasan.

Perhatian investor kemudian juga tertuju pada pasar komoditas. Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup lebih tinggi karena ketidakpastian perkembangan situasi di Timur Tengah, khususnya terkait kondisi Selat Hormuz.

Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka. Pernyataan tersebut berbeda dengan klaim Iran yang menyebut jalur pelayaran tersebut telah tertutup.

Perkembangan di pasar obligasi, kebijakan moneter, reli saham bioteknologi, serta ketegangan geopolitik diperkirakan tetap menjadi faktor yang menentukan arah Wall Street dalam perdagangan berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *