Okupansi Hotel DIY Naik, Daya Beli Wisatawan Masih Jadi Tantangan

YOGYAKARTA – Pola perjalanan wisatawan ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama libur Maulid Nabi Muhammad SAW 2026 mulai bergeser ke perjalanan singkat dengan minat yang semakin beragam. Kondisi itu terlihat dari kenaikan permintaan perjalanan sekitar 5 persen dibandingkan hari biasa, sementara pelaku industri pariwisata mendorong wisatawan tidak hanya datang, tetapi juga memperpanjang masa tinggal dan memperluas aktivitas wisata.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY Trianto Sunarjati mengatakan peningkatan permintaan perjalanan paling terlihat pada 22-25 Agustus 2026. Menurut dia, momentum libur Maulid Nabi Muhammad SAW tetap memberikan dorongan terhadap aktivitas pariwisata, meski durasi perjalanan wisatawan cenderung lebih pendek.

“Karena momentum tersebut tidak merupakan rangkaian cuti bersama yang panjang, pola perjalanan wisatawan cenderung lebih singkat, terutama dalam bentuk short trip selama dua hingga tiga hari,” ujarnya, sebagaimana diwartakan Harianjogja, Senin (24/08/2026).

Trianto menjelaskan pasar domestik masih menjadi penopang utama perjalanan wisata ke DIY. Wisatawan berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta wilayah DIY dan sekitarnya.

Selain wisatawan individu dan keluarga, permintaan juga datang dari komunitas, sekolah, dan kelompok perusahaan. Destinasi yang masih diminati antara lain Malioboro dan kawasan pusat Kota Yogyakarta, Candi Prambanan, Kaliurang, serta kawasan pantai di Kabupaten Gunungkidul (Gunungkidul) dan Kabupaten Bantul (Bantul).

Namun, pelaku industri melihat adanya perubahan dalam preferensi wisatawan. Pengunjung mulai tidak hanya mengejar destinasi ikonik, tetapi mencari kombinasi pengalaman yang mencakup wisata alam, kuliner, desa wisata, hingga aktivitas yang memberikan pengalaman lokal.

“Di saat yang sama, pola minat wisatawan mulai mengalami perkembangan. Wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi ikonik, tetapi semakin tertarik mengkombinasikan perjalanan dengan wisata alam, kuliner, desa wisata, serta aktivitas yang menawarkan pengalaman lokal,” lanjutnya.

Perubahan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk menyusun paket perjalanan yang mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan. Strategi itu dinilai penting karena pertumbuhan jumlah perjalanan belum otomatis berbanding lurus dengan besarnya dampak ekonomi yang diterima daerah.

“Yang perlu kita dorong bukan hanya bagaimana wisatawan datang ke Yogyakarta, tetapi bagaimana mereka tinggal lebih lama, melakukan lebih banyak aktivitas, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat serta pelaku UMKM,” jelasnya.

Menurut Trianto, wisatawan yang semula hanya merencanakan kunjungan ke satu atau dua lokasi dapat diarahkan untuk menambah aktivitas selama berada di DIY. Pilihan tersebut dapat berupa wisata kuliner lokal, desa wisata, kegiatan budaya, wisata alam, maupun aktivitas berbasis komunitas.

Dari sisi akomodasi, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat tingkat hunian kamar selama 22-26 Agustus 2026 berada pada kisaran 45-65 persen. Angka tersebut meningkat sekitar 5-15 persen dibandingkan hari biasa.

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan permintaan kamar juga menunjukkan peningkatan pada 24 Agustus 2026. Meski demikian, pertumbuhan okupansi belum sepenuhnya mengembalikan kinerja pendapatan hotel ke level tahun sebelumnya.

“Ini bergerak naik reservasi tanggal 24 Agustus bekisar 10%. Dibanding hari biasa kenaikannya 5%-15%,” ujarnya.

Sepanjang Januari-Juli 2026, okupansi hotel di DIY berada pada kisaran 60-70 persen. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, rata-rata okupansi tercatat 60-75 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan pelaku usaha masih menghadapi tekanan biaya operasional dan daya beli masyarakat. Kenaikan jumlah tamu belum sepenuhnya dapat diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan karena pengusaha hotel masih berhati-hati dalam menyesuaikan tarif kamar.

“Tidak berani menyesuaikan harga kamarnya karena daya beli masyarakat yang baru tidak baik-baik saja,” jelasnya.

Tantangan diperkirakan semakin terasa saat industri perhotelan memasuki September-November 2026 yang diproyeksikan menjadi periode low season. Untuk menjaga tingkat hunian, sejumlah hotel menyiapkan diskon dan paket khusus.

PHRI DIY juga telah menjalankan kegiatan Table Top Guyub Sesarengan sebanyak 13 kali untuk memperluas promosi dan pasar hotel. Kegiatan terakhir digelar di Surabaya pada bulan sebelumnya dengan menawarkan paket yang disusun masing-masing hotel.

“Sudah ke 13 terakhir di Surabaya bulan lalu dan memberikan paket hemat yang setiap hotel mempunyai cara yang berbeda-beda baik besaran harga dan isi paketnya serta diskon harga kisaran 10%-20% dari harga publish,” paparnya.

Di sisi lain, DPD Asita DIY menilai prospek pariwisata masih cukup positif sepanjang Januari-Juli 2026. Permintaan terutama terjaga saat libur nasional, akhir pekan panjang, libur sekolah, dan momentum tertentu yang memiliki daya tarik khusus.

“Permintaan wisata ke DIY masih cukup terjaga, terutama pada momentum libur nasional, akhir pekan panjang, libur sekolah, maupun periode tertentu yang memiliki daya tarik khusus. Namun, kita juga perlu melihat kualitas pertumbuhannya, bukan hanya jumlah kunjungannya,” jelasnya.

Aksesibilitas melalui jalur udara, kereta api, dan jalan darat menjadi salah satu faktor pendukung. Keragaman wisata budaya, sejarah, alam, kuliner, belanja, serta berbagai acara juga menjadi modal bagi DIY untuk mempertahankan daya saingnya.

Promosi melalui kanal digital dan media sosial turut membuat informasi mengenai destinasi lebih cepat menjangkau calon wisatawan. Kondisi itu memungkinkan keputusan perjalanan dibuat dalam waktu relatif singkat sekaligus membuka peluang bagi destinasi alternatif di luar kawasan yang sudah populer.

Karena itu, Trianto mendorong kolaborasi antara pemerintah, industri pariwisata, komunitas, masyarakat, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengemas potensi wisata menjadi rangkaian pengalaman yang lebih menarik. Strategi tersebut diharapkan dapat memperpanjang lama tinggal sekaligus memperbesar belanja wisatawan di daerah.

“Tantangannya sekarang adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikemas menjadi pengalaman yang semakin menarik, berkualitas, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” lanjutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *