Rupiah Stagnan, Baht Thailand Jadi Mata Uang Asia Paling Melemah

JAKARTA – Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (25/08/2026) cenderung terbatas, dengan rupiah bertahan di level Rp17.705 per dolar AS. Di tengah kondisi tersebut, baht Thailand menjadi mata uang Asia yang mengalami pelemahan harian paling dalam, yakni 0,16 persen.

Mengacu pada data Reuters pukul 02.15 Greenwich Mean Time (GMT) atau 09.15 Waktu Indonesia Barat (WIB), baht berada di level 32,750 per dolar AS. Sementara itu, rupiah relatif stagnan di Rp17.705 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang kawasan tidak terjadi secara seragam. Yen Jepang melemah 0,11 persen menjadi 159,260 per dolar AS, sedangkan dolar Singapura dan dolar Taiwan masing-masing terkoreksi 0,03 persen.

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia justru mampu mencatat penguatan. Won Korea Selatan dan peso Filipina masing-masing naik 0,03 persen terhadap dolar AS.

Jika dilihat dari kinerja sejak akhir 2025, tekanan terhadap rupiah masih tergolong besar. Nilai tukar rupiah telah melemah 5,85 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun berjalan.

Penurunan tersebut menempatkan rupiah di antara sejumlah mata uang Asia yang mengalami depresiasi cukup signifikan. Namun, pelemahan rupiah masih lebih kecil dibandingkan rupee India yang terkoreksi 6,14 persen.

Sementara itu, baht Thailand yang menjadi mata uang dengan pelemahan harian terbesar pada perdagangan Selasa justru mencatat depresiasi yang lebih rendah daripada rupiah jika dihitung sejak akhir 2025. Baht tercatat melemah 3,97 persen sepanjang tahun berjalan.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia mampu mempertahankan tren positif terhadap dolar AS. Won Korea Selatan mencatat penguatan 4,10 persen sejak akhir 2025, menjadikannya salah satu mata uang kawasan dengan kinerja terbaik.

Yuan China juga menguat 3,92 persen, sedangkan dolar Singapura mencatat apresiasi 1,19 persen dalam periode yang sama.

Data tersebut memperlihatkan bahwa dinamika nilai tukar di kawasan Asia masih sangat beragam. Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan setiap mata uang menghadapi kondisi domestik dan eksternal yang berbeda, meskipun seluruhnya berhadapan dengan pergerakan dolar AS sebagai faktor utama pasar valuta asing.

Bagi rupiah, posisi yang masih melemah hampir 6 persen sejak akhir 2025 menunjukkan tekanan terhadap mata uang nasional masih perlu menjadi perhatian. Stabilitas nilai tukar akan tetap menjadi salah satu indikator penting dalam melihat perkembangan pasar keuangan Indonesia di tengah perubahan arah mata uang kawasan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *