Transaksi BaaS Bank Sampoerna Meroket, Laba Bersih Ikut Tumbuh 41 Persen

JAKARTA – Aktivitas layanan Bank as a Service (BaaS) PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) melonjak tajam sepanjang kuartal II 2026. Jumlah transaksi layanan tersebut menembus lebih dari 906 juta transaksi, atau meningkat 513,39 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di kisaran 147 juta transaksi.

Lonjakan transaksi digital tersebut menjadi salah satu catatan penting kinerja Bank Sampoerna pada semester I 2026. Hingga akhir Juni 2026, total volume transaksi melalui layanan BaaS mencapai Rp168,7 triliun, tumbuh 187 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sekitar Rp58,7 triliun, sebagaimana diberitakan Antara, Rabu (26/08/2026).

Layanan BaaS Bank Sampoerna digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan transaksi keuangan masyarakat melalui mitra digital. Sejumlah layanan yang paling banyak dimanfaatkan mencakup pembayaran melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), virtual account, dan transfer dana host-to-host.

Pertumbuhan transaksi tersebut berlangsung bersamaan dengan penguatan kinerja keuangan Bank Sampoerna. Pada semester I 2026, laba bersih perseroan mencapai Rp15,9 miliar, naik 41,29 persen dibandingkan Rp11,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Bank Sampoerna terus beradaptasi di tengah kondisi ekonomi dan sektor UMKM yang penuh tantangan,” kata Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna Henky Suryaputra dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (26/08/2026)..

Henky menambahkan kenaikan laba bersih tersebut menempatkan Bank Sampoerna pada posisi yang solid dalam melanjutkan misi mendukung pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Di sektor pembiayaan, hampir 60 persen dari total kredit Bank Sampoerna hingga akhir Juni 2026 atau sekitar Rp6,2 triliun disalurkan kepada pelaku UMKM. Dari jumlah tersebut, pembiayaan yang diberikan secara langsung kepada pelaku UMKM mencapai Rp5,5 triliun.

Sementara pembiayaan tidak langsung melalui jaringan mitra, seperti perusahaan fintech, multifinance, koperasi, dan modal ventura, mencapai Rp628,8 miliar. Hingga akhir Juni, total penyaluran pembiayaan Bank Sampoerna mencapai Rp10,6 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen wholesale business.

Untuk memperluas pembiayaan ritel, Bank Sampoerna juga mengembangkan layanan melalui PDAja.com. Penguatan kanal pembiayaan tersebut berjalan seiring dengan upaya perseroan menjaga ketersediaan likuiditas untuk menopang penyaluran kredit.

Per Juni 2026, dana murah atau Current Account Savings Account (CASA) yang berasal dari giro dan tabungan mencapai Rp2,6 triliun. Kondisi tersebut turut menopang neraca perseroan dengan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada level 87,93 persen.

Dari sisi kualitas aset, Bank Sampoerna mencatat margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) sebesar 3,95 persen sepanjang enam bulan pertama 2026. Sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross berada di sekitar 3,57 persen.

Rasio NPL tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata kredit bermasalah pada sektor UMKM secara industri yang mencapai 4,54 persen berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada periode yang sama.

Henky mengatakan pengelolaan kredit secara optimal dan penerapan prinsip kehati-hatian menjadi bagian penting dalam menjaga fundamental bisnis perseroan ketika kondisi ekonomi global masih menghadapi ketidakpastian.

“Prioritas utama kami adalah menjaga keseimbangan antara pengelolaan risiko dan tingkat kepercayaan masyarakat hingga akhir tahun. Melalui pendekatan yang hati-hati namun terukur, kami berkomitmen untuk tetap menjaga stabilitas bisnis sekaligus menjaga akses pembiayaan bagi pelaku UMKM,” ujar Henky.

Dengan peningkatan aktivitas BaaS, penguatan likuiditas, serta pertumbuhan laba dan pembiayaan UMKM, Bank Sampoerna berupaya menjaga ekspansi bisnis tanpa mengabaikan kualitas kredit. Perkembangan transaksi digital juga menunjukkan semakin besarnya peran layanan perbankan berbasis kemitraan dalam mendukung aktivitas ekonomi dan akses keuangan masyarakat. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *