Rupiah Jadi Jawara Asia, Menguat ke Rp17.631 per Dolar AS

JAKARTA – Rupiah mengawali perdagangan Jumat (04/09/2026) sebagai mata uang dengan penguatan paling tinggi di kawasan Asia. Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka pada level Rp17.631 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,27 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya sebesar Rp17.679 per dolar AS.

Kinerja tersebut menempatkan rupiah di posisi teratas dalam daftar mata uang Asia yang menguat pada awal perdagangan. Penguatan rupiah juga terjadi ketika mayoritas mata uang di kawasan tersebut bergerak positif terhadap dolar AS.

Hingga pukul 09.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), peso Filipina menjadi mata uang dengan penguatan terbesar kedua setelah rupiah. Peso menguat 0,26 persen. Posisi berikutnya ditempati dolar Taiwan yang naik 0,22 persen.

Baht Thailand turut menguat 0,09 persen, sedangkan dolar Singapura naik 0,06 persen. Yuan China juga mencatat penguatan, meski sangat tipis, yakni 0,02 persen terhadap dolar AS.

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia masih bergerak melemah pada awal perdagangan. Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia setelah terkoreksi 0,1 persen.

Ringgit Malaysia menyusul dengan penurunan 0,05 persen. Sementara itu, yen Jepang melemah 0,02 persen dan dolar Hong Kong terkoreksi tipis 0,006 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan posisi rupiah yang relatif lebih kuat dibandingkan mata uang regional lainnya pada awal sesi perdagangan. Selisih penguatan 0,27 persen membawa rupiah unggul tipis atas peso Filipina yang berada di peringkat kedua.

Kenaikan rupiah sebesar 0,27 persen juga mencerminkan perubahan posisi yang cukup berarti dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Dari Rp17.679 per dolar AS, rupiah bergerak ke Rp17.631 per dolar AS atau menguat Rp48 per dolar AS.

Pergerakan mata uang Asia pada awal perdagangan tersebut berlangsung di tengah perhatian pelaku pasar terhadap arah dolar AS. Dalam transaksi valuta asing, penguatan mata uang regional terhadap dolar AS menjadi salah satu indikator yang diperhatikan untuk melihat sentimen pasar terhadap aset dan mata uang di kawasan.

Data perdagangan pagi itu sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat, (04/09/2026), menunjukkan bahwa penguatan rupiah tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang Asia lainnya juga mencatat kenaikan, meski dengan tingkat penguatan yang lebih rendah.

Dengan posisi sebagai mata uang yang menguat paling tinggi di Asia pada pembukaan perdagangan, pergerakan rupiah selanjutnya menjadi perhatian pelaku pasar. Perubahan sentimen terhadap dolar AS maupun dinamika mata uang regional dapat memengaruhi arah rupiah hingga akhir sesi perdagangan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *