IHSG Turun 0,14% ke 6.668 Sesi I, Saham INDY dan AKRA Jadi Beban
JAKARTA – Tekanan terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada sesi I perdagangan Kamis (10/09/2026). Saham PT Indika Energy Terbuka (INDY), PT AKR Corporindo Terbuka (AKRA), dan PT ESSA Industries Indonesia Terbuka (ESSA) menjadi sejumlah saham dalam indeks LQ45 yang menekan pergerakan pasar.
Mengutip data RTI, IHSG turun 9,678 poin atau 0,14 persen ke level 6.668,523 hingga akhir sesi pertama. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 333 saham melemah, 272 saham menguat, dan 186 saham tidak mengalami perubahan.
Aktivitas transaksi tetap tinggi dengan volume perdagangan mencapai sekitar 24 miliar saham dan nilai transaksi sekitar Rp11,5 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan investor masih aktif melakukan transaksi meski sentimen pasar dibayangi kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi global.
Di jajaran saham LQ45 yang mengalami tekanan, INDY turun 4,49 persen menjadi Rp2.980. Penurunan berikutnya terjadi pada AKRA sebesar 2,26 persen ke Rp1.515 dan ESSA sebesar 2,16 persen ke Rp680.
Sebaliknya, beberapa saham mampu bergerak berlawanan arah dan menjadi penahan laju pelemahan indeks. PT Petrindo Jaya Kreasi Terbuka (CUAN) mencatat kenaikan paling tinggi di antara saham top gainers LQ45, yakni 7,98 persen menjadi Rp1.015.
PT United Tractors Terbuka (UNTR) juga menguat 3,65 persen ke Rp26.950. Sementara itu, PT Aneka Tambang Terbuka (ANTM) naik 3,12 persen menjadi Rp3.300.
Dari sisi sektoral, tekanan terbesar berasal dari tiga kelompok saham. Indeks sektor transportasi (IDX-Trans) turun 0,56 persen, indeks sektor kesehatan (IDX-Health) melemah 0,48 persen, sedangkan indeks sektor keuangan (IDX-Finance) terkoreksi 0,36 persen.
Sentimen eksternal menjadi salah satu faktor yang turut membebani pasar. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah gelombang serangan terhadap kapal dalam konflik dengan Iran bertambah, sehingga harga minyak bertahan di atas US$100 per barel.
Kondisi tersebut menjadi perhatian investor karena harga energi yang tinggi berpotensi memperbesar tekanan inflasi global apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama. Kekhawatiran itu tidak hanya memengaruhi pasar saham Indonesia, tetapi juga bursa regional Asia.
Pada jeda perdagangan, Shanghai Composite China turun 0,4 persen, indeks saham unggulan CSI300 terkoreksi 0,4 persen, Shenzhen melemah 0,7 persen, ChiNext Composite turun 0,2 persen, dan indeks teknologi Shanghai STAR50 terkoreksi 0,4 persen.
Tekanan lebih besar terjadi di Hong Kong. Indeks Hang Seng turun 1,3 persen, sedangkan indeks saham teknologi Hong Kong merosot 2,1 persen.
Investor juga mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan dirilis pada akhir pekan. Data tersebut menjadi salah satu pertimbangan pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan September.
Pergerakan pasar regional dan kenaikan harga minyak membuat pelaku pasar perlu mencermati perkembangan inflasi serta prospek suku bunga global. Dengan kondisi tersebut, arah pergerakan IHSG pada sesi berikutnya masih berpotensi dipengaruhi perubahan sentimen dari pasar global dan komoditas energi, sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis, (10/09/2026). []
Redaksi01
