Laba Timah Tembus Rp2,72 Triliun, Target 2026 Langsung Direvisi
JAKARTA – PT Timah Tbk mulai menaikkan sasaran kinerja keuangan 2026 setelah sejumlah indikator utama perseroan telah melampaui target setahun hanya dalam enam bulan pertama. Perseroan kini mengajukan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 kepada pemegang saham dengan usulan target finansial yang lebih tinggi.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Timah Fina Eliani mengatakan revisi RKAP diperlukan untuk menyesuaikan target perseroan dengan capaian kinerja hingga Juni 2026. Namun, angka target baru belum dapat diumumkan karena masih menunggu persetujuan pemegang saham.
“Oleh karena itu, PT Timah saat ini sedang mengajukan RKAP perubahan kepada pemegang saham agar dari sisi finansial kami mendapatkan target yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang sebelumnya disetujui,” kata Fina dalam konferensi pers Public Expose Live 2026 secara daring di Jakarta, Kamis (10/09/2026), sebagaimana dilansir Antara, Kamis, (10/09/2026).
Kinerja semester I 2026 menjadi dasar perseroan mengusulkan revisi tersebut. Timah membukukan laba bersih Rp2,72 triliun, melonjak 805 persen dibandingkan Rp300 miliar pada periode yang sama 2025.
Realisasi tersebut sekaligus jauh melampaui target laba bersih dalam RKAP 2026 yang sebelumnya ditetapkan Rp1,61 triliun. Data paparan perseroan mencatat laba bersih semester I sebesar Rp2.715 miliar, sedangkan target tahunan berada di level Rp1.605 miliar.
Fina mengatakan peningkatan laba tidak hanya berasal dari kenaikan harga komoditas, tetapi juga ditopang penguatan produksi dan efisiensi biaya.
“Kenaikan laba ini sejalan dengan kenaikan kinerja produksi, baik ore maupun logam seperti yang tadi sudah disampaikan, dibantu juga dari kenaikan harga jual rata-rata serta penurunan HPP,” tuturnya.
Selain laba bersih, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (EBITDA) mencapai Rp3,90 triliun. Angka tersebut meningkat 363 persen dari Rp841 miliar pada semester I 2025 dan telah melampaui target EBITDA setahun sebesar Rp2,98 triliun.
Pendapatan perseroan juga tumbuh signifikan menjadi Rp10,42 triliun atau naik 147 persen dibandingkan Rp4,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, realisasi tersebut masih berada di bawah target pendapatan RKAP 2026 sebesar Rp15,35 triliun.
Penguatan kinerja keuangan tersebut sejalan dengan pertumbuhan operasional. Produksi bijih timah pada semester I 2026 mencapai 12.232 ton kandungan timah (Sn), naik 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi logam timah juga meningkat 58 persen menjadi 10.865 metrik ton. Sementara itu, volume penjualan logam timah tumbuh 85 persen menjadi 10.984 metrik ton.
Dari sisi harga, rata-rata harga jual logam timah Timah mencapai 49.794 dolar AS per metrik ton pada semester I 2026. Harga tersebut meningkat 52 persen dibandingkan 32.816 dolar AS per metrik ton pada semester I 2025.
Direktur Produksi dan Komersial Timah Ilhamsyah Mahendra menilai perkembangan produksi dan penjualan sepanjang paruh pertama tahun ini memberikan ruang bagi perseroan untuk mempertahankan pertumbuhan hingga penghujung 2026.
“Melihat capaian semester I dari sisi penjualan dan kinerja operasi, perseroan sangat optimistis bahwa produktivitas akan terus tumbuh konsisten hingga akhir tahun 2026,” kata Ilhamsyah.
Penguatan kinerja juga tercermin pada kondisi neraca. Aset Timah mencapai Rp16,45 triliun pada akhir Juni 2026, tumbuh 21 persen secara tahunan. Ekuitas meningkat 25 persen menjadi Rp10,55 triliun.
Arus kas dari aktivitas operasi tercatat Rp3,32 triliun atau melonjak 608 persen secara tahunan. Di sisi lain, utang berbunga turun 31 persen dibandingkan posisi akhir 2025 menjadi Rp1,08 triliun.
Di tengah capaian tersebut, pemegang saham tidak hanya mendorong kenaikan target untuk 2026. Timah juga diminta meningkatkan sasaran laba pada 2027, dengan target bottom line yang harus berada di atas laba yang nantinya ditetapkan melalui perubahan RKAP 2026.
“Dari sisi pemegang saham juga menargetkan Timah Tbk sebagai anggota holding MIND ID agar target bottom line di tahun 2027 harus lebih tinggi jika dibandingkan target laba nanti di tahun 2026,” kata Fina.
MIND ID merupakan singkatan dari Mining Industry Indonesia, perusahaan induk yang menaungi Timah. Dengan capaian semester I yang telah melewati sejumlah target tahunan, revisi RKAP menjadi langkah perseroan untuk menyelaraskan sasaran keuangan dengan prospek operasional hingga akhir 2026 sekaligus memenuhi ekspektasi peningkatan kinerja pada 2027. []
Redaksi01
