Semua Sektor Melemah, IHSG Ambruk 111 Poin di Sesi I
JAKARTA – Tekanan jual meluas ke seluruh sektor saham Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (14/09/2026), membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok 1,70 persen pada penutupan sesi I. IHSG turun 111,49 poin ke level 6.429,88.
Pelemahan tersebut tercermin dari dominasi saham yang berada di zona merah. Dari seluruh saham yang diperdagangkan hingga jeda siang, sebanyak 517 saham melemah, sedangkan 144 saham menguat dan 122 saham bergerak stagnan.
Tidak ada satu pun indeks sektoral yang mampu bertahan di zona positif. Sektor energi menjadi kelompok dengan tekanan paling dalam setelah turun 3,06 persen, diikuti sektor barang baku yang terkoreksi 2,88 persen dan sektor infrastruktur yang melemah 2,63 persen.
Tekanan juga terlihat pada saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45. Kendati pasar secara umum melemah, sejumlah saham masih mampu mencatat kenaikan dan menjadi top gainers.
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi penguat terbesar di indeks LQ45 dengan kenaikan 1,61 persen. Setelah itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menguat 1,23 persen dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) naik 0,80 persen.
Sebaliknya, tekanan paling besar di kelompok saham LQ45 terjadi pada PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Saham tersebut anjlok 6,23 persen, disusul PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang turun 5,74 persen dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 5,66 persen.
Aktivitas transaksi tetap tinggi di tengah pelemahan pasar. Hingga akhir sesi I, volume perdagangan saham mencapai 17,32 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp8 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada sejumlah saham tertentu, tetapi meluas hampir ke seluruh kelompok sektor dan saham unggulan. Pelemahan sektor energi serta barang baku turut memperbesar tekanan terhadap IHSG pada perdagangan paruh pertama hari itu, sebagaimana diberitakan Kontan, Senin, (14/09/2026).
Pergerakan pada sesi I menjadi gambaran kuatnya tekanan pasar pada perdagangan Senin. Investor selanjutnya akan mencermati apakah tekanan tersebut berlanjut hingga penutupan perdagangan atau mulai mereda pada sesi II. []
Redaksi01
