Diskominfo Kutim Perkuat LMS dan Literasi Digital di Tengah Efisiensi

Diskominfo Staper Kutim memanfaatkan teknologi open source, platform LMS, dan jaringan KIM untuk mempertahankan pengembangan layanan serta literasi digital di tengah kebijakan efisiensi anggaran.

ADVERTORIAL – Kebijakan efisiensi anggaran tidak menghentikan Dinas Komunikasi Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfo Staper) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengembangkan inovasi layanan dan literasi digital. Pemanfaatan teknologi open source, subdomain yang telah tersedia, serta penguatan platform pembelajaran menjadi strategi untuk menjalankan transformasi digital tanpa membutuhkan anggaran besar.

Kepala Dinas (Kadis) Komunikasi Informatika, Persandian, dan Statistik Kutim Ronny Bonar mengatakan, keterbatasan anggaran justru menjadi momentum untuk mencari pendekatan yang lebih efisien dalam menghasilkan inovasi.

“Saya mencoba untuk bagaimana kita memanfaatkan sebuah momentum bahwa yang namanya efisiensi itu bukan menghambat kita untuk melakukan sebuah perubahan. Kita mencoba bagaimana membuat sebuah inovasi dengan kondisi yang ada sekarang,” tegasnya.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah platform Learning Management System (LMS) milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim. Pengembangannya memanfaatkan teknologi open source dan subdomain yang telah dimiliki sehingga tidak memerlukan pembiayaan besar.

Platform digital yang disebut baru berjalan sekitar dua bulan itu diarahkan menjadi sarana pembelajaran sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap informasi, layanan publik, dan peningkatan kecakapan teknologi.

Dalam pengembangannya, Diskominfo Staper Kutim menyiapkan materi mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), kemampuan mengenali informasi palsu atau hoaks, serta penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Untuk penyusunan materi pembelajaran tersebut, Diskominfo Staper Kutim menggandeng Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kutim serta merencanakan keterlibatan Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) di Samarinda.

Ronny menilai perkembangan AI tidak seharusnya semata-mata dipandang sebagai ancaman. Menurutnya, manfaat maupun dampak negatif teknologi sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan.

“AI itu menurut saya juga tidak jelek kok. Tergantung dari pemanfaatannya. Kalau digunakan untuk yang positif pasti akan positif. AI enggak mungkin kita musuhin, tapi bagaimana kita mengelola AI,” ujar Ronny Bonar saat di Diskominfo Kutim, Selasa (29/09/2026).

Selain menggunakan platform digital, Diskominfo Staper Kutim mengandalkan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai penghubung penyampaian informasi hingga tingkat desa.

Saat ini, sekitar 31 KIM telah terbentuk dari total 139 desa di Kutim. Keberadaan kelompok tersebut diarahkan untuk membantu pemerintah memperluas edukasi mengenai hoaks, pemanfaatan teknologi, dan kecakapan digital di tengah masyarakat.

“Kita mencoba melalui Kelompok Informasi Masyarakat atau KIM yang ada di desa-desa. Walaupun dalam proses baru 31 KIM dari 139 desa, itu kita mencoba sebagai perpanjangan tangan Kominfo untuk memberikan penyampaian informasi tentang hoaks, pemanfaatan teknologi, dan sebagainya,” jelas Ronny.

Kombinasi antara pengembangan LMS dan penguatan KIM menjadi pendekatan Diskominfo Staper Kutim untuk memperluas jangkauan pelayanan dan edukasi digital dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Strategi tersebut diharapkan membuat kebijakan efisiensi tidak menjadi penghambat transformasi digital. Sebaliknya, keterbatasan anggaran dapat mendorong lahirnya inovasi yang lebih efisien sekaligus memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Kutim. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *