Wall Street Ditutup Rebound, Yield Obligasi AS Mulai Mereda
NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat (AS) berbalik menguat pada perdagangan Kamis (01/10/2026) setelah tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS mulai mereda. Perubahan arah pasar obligasi tersebut membantu Wall Street keluar dari tekanan awal perdagangan, meski investor masih mencermati kekuatan ekonomi dan risiko inflasi yang dapat memengaruhi kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Perubahan sentimen terutama terlihat pada imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun yang turun sekitar 10 basis poin. Penurunan tersebut membawa imbal hasil surat utang bertenor pendek itu menuju penurunan harian terbesar sejak Agustus 2025.
Sebelumnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun. Kenaikan tersebut terjadi setelah imbal hasil mencatat kenaikan kuartalan terbesar sejak 1994 pada akhir September dan sempat menekan pasar saham.
Tekanan terhadap pasar muncul setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja masih kuat. Kementerian Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran mingguan turun menjadi 197.000, di bawah perkiraan ekonom dalam survei Reuters sebesar 200.000.
Data tersebut memperkuat perhatian investor terhadap kondisi pasar tenaga kerja menjelang laporan penggajian pemerintah AS yang dijadwalkan terbit pada Jumat. Pasar juga mencermati perkembangan harga setelah Institute for Supply Management (ISM) melaporkan indeks Manufaktur Purchasing Managers’ Index (PMI) turun tipis menjadi 54,5 pada September dari 54,6 pada Agustus, sementara harga input meningkat.
Situasi berubah setelah Wakil Ketua Federal Reserve (The Fed) Philip Jefferson memberikan sinyal bahwa bank sentral dapat lebih bersabar sebelum kembali menaikkan suku bunga setelah kenaikan 25 basis poin pada September.
Pernyataan tersebut ikut mendorong penurunan imbal hasil obligasi dan meredakan sebagian tekanan terhadap saham. Sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat, (02/10/2026), perubahan ekspektasi kebijakan moneter membuat pelaku pasar kembali memburu aset saham meski tetap bersiap menghadapi volatilitas.
“Meskipun valuasi telah turun, pasar masih belum bisa dikatakan murah. Jadi saya tidak pesimistis (bearish) terhadap pasar saham. Kita masih bisa terus merambat naik, tetapi saya memperkirakan volatilitas yang lebih tinggi baik di pasar saham maupun obligasi,” ujar Scott Welch, Chief Investment Officer di Certuity, Potomac, Maryland.
“Semua orang sedang menyesuaikan diri dengan era new normal. Tidak ada hal yang sangat menakutkan dari apa yang terjadi di pasar saat ini; ini hanya sedikit berbeda dari apa yang biasa dihadapi orang-orang dalam beberapa tahun terakhir, dan butuh penyesuaian.”
Pada akhir perdagangan, Dow Jones Industrial Average naik 20,69 poin atau 0,04 persen menjadi 50.926,74. Indeks S&P 500 bertambah 14,94 poin atau 0,20 persen ke level 7.666,48, sedangkan Nasdaq Composite menguat 10,53 poin atau 0,04 persen menjadi 26.871,60.
Kinerja Wall Street juga mendapat dukungan dari sektor energi setelah harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 4 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut dipicu keputusan Tiongkok menangguhkan ekspor bahan bakar yang berpotensi memperketat pasokan minyak di pasar global.
Sektor energi S&P 500 menguat 1,9 persen dan menjadi sektor dengan kinerja terbaik di antara 11 sektor utama indeks tersebut. Sektor teknologi juga naik 0,8 persen, sementara saham perusahaan perangkat lunak menguat sekitar 1 persen setelah kinerja Accenture memberikan sentimen positif.
Saham Accenture melonjak ke level tertinggi sejak 6 Maret setelah perusahaan konsultan teknologi informasi tersebut memproyeksikan pertumbuhan pendapatan setahun penuh di atas perkiraan. Saham Micron Technology juga naik 3 persen setelah perusahaan menyampaikan proyeksi pendapatan yang lebih baik dari perkiraan serta komitmen pesanan pelanggan senilai 32 miliar dolar AS melalui perjanjian pasokan.
Perkembangan tersebut turut memperkuat optimisme investor terhadap prospek kecerdasan buatan (AI), khususnya terhadap permintaan produk dan layanan yang berkaitan dengan teknologi tersebut.
Di sisi kebijakan moneter, data inflasi yang lebih moderat pada Rabu turut menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober. Berdasarkan indikator CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekurang-kurangnya 25 basis poin hanya 28,2 persen, turun dari 68,6 persen pada pekan sebelumnya.
Namun, arah kebijakan The Fed masih menjadi perhatian karena Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari memperkirakan kenaikan suku bunga tambahan tetap diperlukan untuk menahan laju ekonomi hingga 2027. Ia belum memastikan apakah kenaikan tersebut perlu dilakukan pada Oktober.
Perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed membuat investor tetap menghadapi ketidakpastian mengenai arah suku bunga berikutnya. Kondisi itu berpotensi menjaga volatilitas pasar saham dan obligasi meski tekanan dari kenaikan imbal hasil surat utang AS mulai berkurang. []
Redaksi01
