Wisatawan ke Sumbar Naik, Lama Menginap Baru 1,2 Malam

PADANG – Pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat (Sumbar) belum sepenuhnya sejalan dengan peningkatan lama tinggal dan tingkat hunian hotel. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar mencatat rata-rata lama menginap tamu hotel berbintang hingga pertengahan 2026 masih sekitar 1,2 malam, sementara tingkat hunian hotel nonbintang berada di kisaran 15-23 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan tantangan industri pariwisata Sumbar tidak lagi hanya berkaitan dengan mendatangkan wisatawan, tetapi juga mendorong mereka untuk memperpanjang masa tinggal dan meningkatkan belanja selama berada di daerah.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumbar, Rina Pangeran, menyampaikan kondisi tersebut dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) VI PHRI Sumbar di Pangeran Beach Hotel, Kamis (01/10/2026).

Berdasarkan data Dinas Pariwisata Sumbar yang disampaikan Rina, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) mencapai sekitar 21,1 juta kunjungan pada 2025. Sementara itu, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) meningkat dari sekitar 56.000 kunjungan pada 2023 menjadi 77.000 kunjungan pada 2024 dan sekitar 84.000 kunjungan pada 2025.

Namun, pertumbuhan wisman tersebut belum sepenuhnya stabil. Pada semester pertama 2026, kunjungan wisman tercatat turun sekitar 14 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan ini belum aman dan harus kita jaga bersama,” kata Rina, sebagaimana diberitakan Padek, Kamis, (01/10/2026).

Dari sisi akomodasi, tingkat hunian hotel berbintang sempat berada di kisaran 44-49 persen pada 2023 dan meningkat menjadi sekitar 50 persen pada akhir 2024. Namun, tingkat hunian kemudian turun hingga sekitar 40 persen pada awal 2025 dan sepanjang tahun berada di kisaran 43-47 persen akibat efisiensi anggaran pemerintah.

Memasuki pertengahan 2026, tingkat hunian hotel berbintang mulai membaik hingga sekitar 52 persen. Meski demikian, durasi kunjungan wisatawan masih menjadi persoalan karena rata-rata lama menginap baru sekitar 1,2 malam.

“Wisatawan sudah datang, tetapi banyak yang belum menginap atau belum tinggal cukup lama,” ujarnya.

Untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan, PHRI mendorong pemerintah dan pelaku industri memperbanyak pilihan destinasi serta atraksi wisata. Pengembangan tidak hanya diarahkan pada wisata alam, tetapi juga wisata edukasi, taman tematik, wisata belanja, kuliner, dan budaya.

PHRI juga mendorong penyusunan paket perjalanan lintas kabupaten dan kota dengan durasi tiga hingga empat hari. Dengan pola tersebut, wisatawan diharapkan memiliki lebih banyak tujuan selama berada di Sumbar sehingga waktu kunjungan tidak hanya terkonsentrasi pada satu daerah.

Selain paket perjalanan, agenda pariwisata dinilai perlu diumumkan lebih awal. Informasi kegiatan yang tersedia jauh hari dapat membantu biro perjalanan dan komunitas wisata menyusun paket serta memasarkan perjalanan ke Sumbar.

Menurut Rina, Sumbar memiliki beragam modal wisata yang dapat dikembangkan untuk memperpanjang kunjungan, mulai dari Kepulauan Mentawai yang dikenal sebagai destinasi selancar dunia, Danau Maninjau, Danau Singkarak, Lembah Harau, Sawahlunto sebagai warisan dunia UNESCO, hingga kekayaan budaya dan kuliner Minangkabau.

“Potensi Sumatera Barat sangat besar. Kita punya semuanya,” katanya.

Dari sisi aksesibilitas, PHRI juga mendorong penambahan penerbangan langsung dari luar negeri dan sejumlah kota besar di Indonesia dengan harga tiket yang terjangkau. Pasar Malaysia dinilai tetap perlu dipertahankan, sementara Australia, Eropa, Timur Tengah, Riau, dan Jambi didorong untuk digarap lebih serius.

Penataan industri akomodasi juga menjadi perhatian. PHRI mendorong seluruh usaha akomodasi memenuhi perizinan dan kewajiban perpajakan agar persaingan usaha berlangsung secara sehat dan adil.

“PHRI siap menjadi mitra pemerintah dalam standardisasi hotel dan rumah makan,” ujarnya.

Menurut Rina, dampak pariwisata tidak hanya dirasakan hotel dan restoran. Ketika wisatawan menginap, perputaran ekonomi juga dapat mengalir kepada petani, nelayan, pedagang, pengrajin, pengemudi, pemandu wisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Pariwisata adalah pemungkit tercepat untuk menggerakkan kembali ekonomi Sumatera Barat,” kata Rina. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *