Indonesia Dorong Rumput Laut Naik Kelas Jadi Industri

0
menteri-perindustrian-muhammad-sarmuji-1791329553294_169

JAKARTA – Pemerintah mendorong rumput laut tidak lagi berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dikembangkan menjadi basis industri bernilai tambah yang mencakup pangan, farmasi, kosmetik, biomaterial, hingga bioplastik. Langkah tersebut diarahkan untuk membangun rantai industri rumput laut yang terintegrasi dari penyediaan bahan baku di hulu hingga pasar di hilir.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan Indonesia memiliki sumber daya rumput laut yang besar dan tersebar di berbagai daerah. Tantangan pemerintah saat ini adalah mengubah keunggulan sumber daya tersebut menjadi kekuatan industri yang mampu menghasilkan nilai ekonomi lebih tinggi.

“Kementerian Perindustrian siap mengambil langkah-langkah untuk menciptakan ekosistem industri seaweed (rumput laut) ini untuk menjadikan ini menjadi satu potensi baru yang membanggakan kita semua,” ujarnya dalam National Seaweed Forum 2026 Pengembangan Rumput Laut Terintegrasi 2026-2030 di Jakarta, Selasa (06/10/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Selasa (06/10/2026).

Menurut Sarmuji, pengembangan rumput laut memiliki ruang hilirisasi yang luas. Komoditas tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk, antara lain bahan pangan, agar, karagenan, pupuk, produk farmasi, kosmetik, biomaterial, dan bioplastik.

Karena itu, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi dan diversifikasi produk menjadi bagian penting dalam pengembangan industri rumput laut nasional. Pemerintah menilai proses tersebut juga dapat membuka pasar baru sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia.

“Hilirisasi harus mampu memperkuat kapasitas produksi industri, mendorong inovasi, membuka pasar baru, serta meningkatkan gaya saing produk Indonesia. Pada saat yang sama, pengembangan tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan dengan memastikan ketersediaan bahan baku, menjaga kualitas lingkungan, serta meningkatkan efisiensi sumber daya dan memberikan manfaat di masyarakat di sentral-sentral produksi,” ujar Menperin lagi.

Arah pengembangan industri tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2025-2045 yang masih dalam tahap finalisasi. Strategi itu dirancang dengan mempertimbangkan kesinambungan antara ketersediaan bahan baku, industri pengolahan, industri pengguna, hingga pasar.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan industri rumput laut tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas pengolahan. Keterhubungan antara sektor hulu dan hilir juga menjadi faktor penting agar produksi bahan baku, industri pengolahan, dan kebutuhan pasar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Sarmuji mengatakan pembangunan ekosistem industri rumput laut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Sinergi pemerintah, investasi swasta, pembiayaan, riset, inovasi, teknologi, serta kerja sama internasional dinilai diperlukan untuk mempercepat pengembangan sektor tersebut.

Pemerintah juga akan mendorong peningkatan nilai tambah produk, pengembangan industri, serta perluasan akses pasar dan ekspor. Upaya itu diharapkan membuat potensi rumput laut dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat di wilayah sentra produksi.

“Dengan demikian, industrialisasi rumput laut bukan hanya tentang mengolah suatu komoditas, tetapi tentang membangun rantai nilai, menciptakan multiplier effect, dan menjadikan potensi ekonomi biru ini sebuah konsep ekonomi berbasis kelestarian ekosistem laut sebagai bagian dari kekuatan ekonomi nasional,” ujar dia pula.

Pengembangan tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Pemerintah menilai peningkatan produksi dan nilai tambah perlu berjalan bersama dengan ketersediaan bahan baku, perlindungan lingkungan, efisiensi sumber daya, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di sentra produksi rumput laut. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *