Wall Street Berbalik Melemah, Yield Treasury Jadi Biang Tekanan

0
7a39b0809c625997e39e9ed3699f8ed829d420a5a848e514

NEW YORK – Lonjakan imbal hasil (yield) Treasury Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun ke level tertinggi dalam 24 tahun menjadi tekanan utama bagi pasar saham Wall Street pada Rabu (07/10/2026), sekaligus memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi dan tingginya beban utang.

Tiga indeks utama Wall Street kompak berakhir di zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 0,66 persen menjadi 51.180,17, S&P 500 melemah 0,22 persen ke 7.801,75, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,22 persen menjadi 27.538,69.

Koreksi tersebut terjadi sehari setelah S&P 500 dan Nasdaq mencatat rekor penutupan. Pelemahan juga mengakhiri reli Dow Jones dan S&P 500 selama empat sesi berturut-turut, sementara Nasdaq membukukan penurunan pertama setelah enam sesi penguatan.

“Pasar masih mengharapkan suku bunga lebih tinggi, tetapi tidak harus naik di setiap pertemuan,” kata Thomas Martin, Senior Portfolio Manager GLOBALT, sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis, (08/10/2026).

Tekanan terhadap pasar saham semakin besar setelah harga minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel. Kenaikan harga minyak yang dipicu kekhawatiran pasokan akibat perang Iran meningkatkan risiko inflasi dan memperbesar kemungkinan bank sentral mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.

Kondisi tersebut turut menekan saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga. Saham sektor perumahan turun 2,3 persen, sedangkan perusahaan pembangun rumah terkoreksi 2,9 persen setelah suku bunga hipotek 30 tahun naik ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun.

Sinyal mengenai arah kebijakan moneter juga terlihat dari risalah rapat Federal Reserve (The Fed) September. Dokumen tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat mengenai alasan perlunya kenaikan suku bunga.

Sebagian pejabat menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk meredam dampak lonjakan harga energi. Sementara itu, pejabat lainnya berpandangan bahwa kebijakan tersebut dibutuhkan untuk menekan tekanan inflasi yang bersumber dari permintaan.

Perubahan ekspektasi investor tercermin dari penurunan peluang kenaikan suku bunga kedua secara beruntun pada pertemuan The Fed Oktober. Pasar kini memperkirakan peluang tersebut hanya 17,2 persen, turun tajam dari 37,6 persen sepekan sebelumnya.

Di pasar saham, sektor industri menjadi pemberat terbesar bagi S&P 500, sedangkan sektor kesehatan mampu mencatat penguatan. Saham perusahaan semikonduktor turun 1,2 persen setelah sebelumnya menguat lebih dari 80 persen sepanjang tahun berjalan.

Saham SpaceX juga melemah 2,5 persen setelah muncul laporan bahwa perusahaan milik Elon Musk tersebut tengah mencari pendanaan sebesar US$40 miliar untuk membiayai pembelian cip Nvidia.

Perhatian investor selanjutnya akan beralih ke musim laporan keuangan kuartal III yang mulai ramai pada pekan depan. Pelaku pasar akan mencermati dampak belanja besar-besaran perusahaan teknologi untuk kecerdasan buatan (AI), sekaligus melihat daya tahan konsumen AS di tengah tekanan inflasi.

Menurut London Stock Exchange Group (LSEG), laba agregat perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam S&P 500 diperkirakan tumbuh 30,6 persen secara tahunan pada kuartal III. Proyeksi tersebut menjadi salah satu faktor yang akan dicermati investor untuk menilai apakah kinerja korporasi mampu mengimbangi tekanan dari kenaikan yield dan ketidakpastian arah suku bunga. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *