Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.898, Tekanan Global Masih Membayangi
JAKARTA – Penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat (09/10/2026) belum sepenuhnya menghapus tekanan dari pasar global. Mata uang Indonesia di pasar spot menguat 0,09% menjadi Rp17.898 per dolar Amerika Serikat (AS), tetapi kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan harga minyak mentah berpotensi membatasi ruang penguatan rupiah.
Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka pada level Rp17.898 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi penutupan perdagangan Kamis (08/10/2026) sebesar Rp17.915 per dolar AS. Pada perdagangan sehari sebelumnya, rupiah justru melemah 0,16%.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tantangan untuk mempertahankan penguatan di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter AS. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) dan harga minyak mentah Brent yang menjadi faktor eksternal penekan mata uang domestik.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, sebelumnya menilai kenaikan imbal hasil US Treasury dan harga minyak Brent masih mendominasi tekanan eksternal terhadap rupiah. Kondisi tersebut membatasi peluang mata uang domestik untuk menguat lebih jauh.
Selain perkembangan pasar obligasi dan komoditas, arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), juga menjadi perhatian pelaku pasar. Keputusan suku bunga bank sentral tersebut berpengaruh terhadap pergerakan dolar AS dan daya tarik aset keuangan di pasar global.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pasar masih mencermati risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee atau FOMC) pada September 2026.
“Risalah FOMC September menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga menjelang akhir tahun,” ungkap Yusuf, Kamis (08/10/2026), sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat (09/10/2026).
Sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai prospek rupiah. Apabila kebijakan moneter AS semakin ketat, daya tarik aset berbasis dolar berpotensi meningkat dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dengan demikian, penguatan rupiah ke level Rp17.898 per dolar AS pada awal perdagangan Jumat menjadi perkembangan positif, tetapi belum cukup untuk memastikan pembalikan arah tren. Pergerakan selanjutnya masih bergantung pada dinamika pasar global, perkembangan imbal hasil obligasi AS, harga minyak, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. []
Redaksi01
